Mulai tahun ini pemerintah Arab Saudi melarang pengambilan air Zamzam dalam jumlah besar. Karenanya, jamaah haji Indonesia kini tidak bisa lagi berharap pihak penerbangan, baik Garuda Indonesia mau pun Saudi Airlines, membagikan air dari sumur bersejarah tersebut secara cuma-cuma seperti tahun sebelumnya.
Selama menjalankan ibadah haji, mulai proses di Masjidil Haram, Makkah dan Masjid Nabawi, Madinah, jamaah bisa sepuasnya menikmati air Zamzam yang tersedia dalam jumlah tak terbatas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Air dari sumur yang berada tidak jauh dari kabah itu memang dimuliakan seluruh umat muslim. Selain ada hadis yang diriwayatkan Ibnu abbas RA, ada hadis lainnya yang mendukung pemuliaan air Zamzam. Bunyi hadis itu, "Zamzam lima syuriba lahu" yang artinya air Zamzam akan melaksanakan pesan dan niat yang meminumnya.
Keajaiban Zamzam
Banyak cerita-cerita penuh keajaiban dikaitkan dengan kemuliaan air Zamzam. Ada yang sembuh dari penyakit akut setelah meminumnya, padahal sudah divonis dokter tak bakal tersembuhkan. Bahkan umurnya tinggal hitungan hari. Ada anak yang wajahnya bopeng, tapi lama kelamaan noda di wajah menghilang setelah diusap dengan air Zamzam secara telaten. Dan banyak lagi cerita tentang keajaiban air Zamzam.
Sejarah munculnya air Zamzam ini juga makin menambah kemuliaannya. Dalam riwayat disebutkan, Zamzam muncul dari jejakan kaki malaikat Jibril yang diutus Allah untuk menolong Siti Hajar demi menghidupi bayi Ismail yang kehausan di padang pasir. Bahkan upaya Hajar tujuh kali mondar-mandir lari dari bukit Shafa dan Marwah untuk mencari air hingga kini diabadikan dalam ritual sai sebagai salah satu rukun haji.
Air yang terus memancar dari jejakan kaki Jibril yang telah menghilang lalu dihimpun dan dibendung di kanan kirinya oleh Hajar dengan menyeru, "Zamzam, zamzam, zamzam", yang artinya "berkumpullah, berkumpullah, berkumpullah". Seruan Hajar ini yang kemudian dipakai untuk menamai sumur tersebut.
Karena sedemikian dimuliakan, akhirnya jamaah menjadikan air Zamzam sebagai oleh-oleh paling utama untuk keluarga mereka di Tanah Air. Bagi sanak keluarga mereka, air Zamzam juga menjadi barang yang paling ditunggu-tunggu dan diharapkan untuk sekedar ikut menikmati meski hanya beberapa teguk karena harus dibagi rata.
Tak heran ketika mendengar pihak maskapai tidak boleh lagi membagikan air Zamzam seperti tahun-tahun sebelumnya, antrean jamaah yang mengambil air Zamzam di kran-kran yang disediakan di sekitar Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi, semakin berjubel. Jerigen-jerigen berbagai ukuran yang dijual para pedagang di sekitar masjid pun laris manis.
Yang tidak sabar mengantre atau yang sudah tua dan kalah tenaga untuk berdesakan, mengambil jalan pintas. Mereka membeli air-air Zamzam yang dijual bebas di toko-toko dekat Masjidil Haram. Harganya beragam antara 10 hingga 20 real.
"Istilahnya tidak membeli air Zamzam, tapi membeli jerigennya dan mengganti jasa pengemasannya," ujar Ani, jamaah asal Solo, berkilah.
Yang bertekad mengantre sendiri ada juga cerita uniknya. Seorang jamaah pada tengah malam yang dingin berjalan kaki menuju Masjidil Haram yang berjarak cukup jauh dari pemondokannya. Selain ingin melaksanakan ibadah, tujuan lainnya adalah mengambil air Zamzam.
Tak tanggung-tanggung, dia membeli jerigen ukuran 20 liter di dekat masjid kemudian sigap masuk ke antrean jamaah untuk mengambil air Zamzam hingga menjelang pagi. Setelah jerigennya penuh, dengan wajah berbinar dia memanggulnya pulang ke pemondokan. Tekadnya bulat, jerigen penuh air Zamzam itu akan dipaketkan ke Tanah Air via kargo udara.
Namun beberapa hari berikutnya, dia kembali membeli jerigen. Kali ini dia membeli dua buah jerigen dengan ukurannya lebih kecil, 10 liter. Rupanya dia sudah sempat mendatangi pihak jasa angkutan barang atau kargo demi oleh-oleh paling berharga itu. Jawaban pihak kargo, tidak mau mengangkut jerigen air ukuran 20 liter. Ukuran maksimal yang bisa diangkut adalah jerigen 10 liter.
"Air Zamzam yang sudah saya ambil akan saya bagi dalam dua jerigen ini dan tetap akan saya kirim ke Tanah Air, biar mahalnya seberapa yang penting bawa air Zamzam dari Tanah Suci," ujarnya sembari menulis namanya dengan spidol di badan jerigen. Tak lupa dituliskannya huruf H alias haji dengan huruf kapital yang besar dan tebal.
(mbr/umi)










































