Mereka yang tergabung dalam Forum Silahturahmi Guru Bantu (FSGB) harus rela berbasah ria demi menuntut keadilan agar diangkat sebagai PNS Departemen Agama.
Beberapa dari mereka ada yang memakai payung dan jas hujan. Namun, kebanyakan kehujanan dan basah kuyup.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut koordinator lapangan, Samsul Choiri, guru bantu Depag harus segera diangkat jadi PNS karena di Diknas, guru bantunya sudah diangkat.
"Di Depag ini belum, ada apa? Kita ikut ini sudah 4 kali," katanya.
Choiri mengatakan, dia dan rekan-rekannya bisa ke Jakarta berkat patungan per orang Rp 200.000. Mereka tiba pukul 04.30 WIB.
"Kita naik bus. Tadi pagi ngumpul di Istiqlal terus berangkat ke mari," ujarnya.
Seorang guru madrasah asal Temanggung, Tri, mengatakan, dirinya sudah 22 tahun mengabdikan diri sebagai guru bantu. Setelah dikontrak setahun, tidak ada lagi perpanjangan kontrak dan sampai sekarang statusnya belum PNS.
Karena itulah Tri berjuang menuntut haknya. Karena ada beberapa guru bantu yang belum bekerja selama setahun justru sudah menjadi PNS.
"Guru bantu 1 tahun itu cuma dapet Rp 6 juta. Rata-rata Rp 500.000 per bulan. Padahal transpor Rp 8.000/hari. Status saya akhirnya dikembalikan ke pihak sekolah. Saya dapat uang insentif dari sekolah Rp 100.000/bulan," imbuhnya.
Saat ini, 10 orang perwakilan guru bantu diterima oleh pihak Istana Presiden. Setelah dari Istana, rencananya mereka akan menuju Depag, Jl Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.
(ziz/nrl)










































