Niat pemerintah Pakistan itu disampaikan Presiden Pervez Musharraf kepada rakyat Pakistan melalui jaringan televisi setempat. Dengan pengumuman tersebut, Musharraf berharap dapat membantu meredakan kemarahan rakyat Pakistan, terutama para pendukung Bhutto.
"Investigasi ini sangat penting. Semua keraguan dan kesimpangsiuran yang muncul di masyarakat harus segera dicarikan jalan keluarnya," ujar Musharraf dalam jaringan televisi di negaranya, sebagaimana dilansir AFP, Rabu (2/1/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibat peristiwa pembunuhan itu, Musharraf pun mengumumkan penundaan pelaksanaan pemilu hingga 18 Februari 2008. "Penundaan pemilu ini sesuatu yang tidak dapat dihindari dan merupakan keputusan yang tepat," ujar Musharraf.
Musharraf juga menyerukan persatuan nasional dalam menghadapi aksi terorisme yang selalu mengancam kesatuan dan persatuan negaranya.
"Kita harus bersatu dalam berjuang menghadapi aksi terorisme dengan seluruh kekuatan kita. Jika kita gagal, Tuhan akan melaknat, dan masa depan Pakistan akan menjadi gelap," cetus Musharraf.
Sementara itu, sikap keras Musharraf untuk tetap mengundurkan pemilu mendapat reaksi keras dari partai oposisi. Partai Rakyat Pakistan (PPP), partai pendukung Bhutto, dan partai oposisi lainnya mengecam keputusan pemerintah Pakistan. Meski demikian, mereka menegaskan akan tetap mengambil bagian sebagai peserta dalam pemilu tersebut.
"Kami mengecam pengunduran tersebut. Tapi kami akan tetap ambil bagian," cetus suami Bhutto Asif Ali Zardari.
(rmd/ary)











































