Musharraf Undang Inggris Selidiki Kematian Bhutto

Musharraf Undang Inggris Selidiki Kematian Bhutto

- detikNews
Kamis, 03 Jan 2008 00:15 WIB
Islamabad - Satu pekan setelah kematian Mantan Perdana Menteri Benazir Bhutto, situasi keamanan di Pakistan semakin memanas. Kerusuhan sosial makin meluas. Pemerintah Pakistan pun akan meminta bantuan Inggris untuk mengungkap kematian Bhutto sebelum pemilu digelar.

Niat pemerintah Pakistan itu disampaikan Presiden Pervez Musharraf kepada rakyat Pakistan melalui jaringan televisi setempat. Dengan pengumuman tersebut, Musharraf berharap dapat membantu meredakan kemarahan rakyat Pakistan, terutama para pendukung Bhutto.

"Investigasi ini sangat penting. Semua keraguan dan kesimpangsiuran yang muncul di masyarakat harus segera dicarikan jalan keluarnya," ujar Musharraf dalam jaringan televisi di negaranya, sebagaimana dilansir AFP, Rabu (2/1/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Musharraf mengatakan, Bhuto dibunuh oleh kelompok teroris yang sama, yakni pelaku dibalik serangkaian kekerasan yang terjadi di Pakistan selama ini. Aksi kelompok militan tersebut bertujuan untuk menggagalkan pemilihan umum yang awalnya akan digelar 8 Januari 2008.

Akibat peristiwa pembunuhan itu, Musharraf pun mengumumkan penundaan pelaksanaan pemilu hingga 18 Februari 2008. "Penundaan pemilu ini sesuatu yang tidak dapat dihindari dan merupakan keputusan yang tepat," ujar Musharraf.

Musharraf juga menyerukan persatuan nasional dalam menghadapi aksi terorisme yang selalu mengancam kesatuan dan persatuan negaranya.

"Kita harus bersatu dalam berjuang menghadapi aksi terorisme dengan seluruh kekuatan kita. Jika kita gagal, Tuhan akan melaknat, dan masa depan Pakistan akan menjadi gelap," cetus Musharraf.

Sementara itu, sikap keras Musharraf untuk tetap mengundurkan pemilu mendapat reaksi keras dari partai oposisi. Partai Rakyat Pakistan (PPP), partai pendukung Bhutto, dan partai oposisi lainnya mengecam keputusan pemerintah Pakistan. Meski demikian, mereka menegaskan akan tetap mengambil bagian sebagai peserta dalam pemilu tersebut.

"Kami mengecam pengunduran tersebut. Tapi kami akan tetap ambil bagian," cetus suami Bhutto Asif Ali Zardari.
(rmd/ary)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads