Memaknai Sebuah Gua di Punggung Gunung

Catatan Haji

Memaknai Sebuah Gua di Punggung Gunung

- detikNews
Rabu, 02 Jan 2008 04:40 WIB
Makkah - Sebagian besar muslim Indonesia gemar melakukan ziarah atau berkunjung ke tempat-tempat khusus, baik makam Nabi dan para sahabat, makam wali, maupun makam keluarga. Selama berada di Arab Saudi, para jamaah haji Indonesia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan berziarah.
 
Banyak tempat yang bisa dikunjungi. Di Madinah terdapat makam Nabi Muhammad di kompleks Masjid Nabawi, makam Baqi' yang merupakan tempat pemakaman keluarga Nabi serta para sahabat maupun jamaah haji yang meninggal di Madinah, Jabal Uhud, serta sejumlah masjid yang berkaitan dengan syiar Islam di masa Nabi.
 
Di Makkah, tak kurang banyak tempat-tempat serupa. Ada Jabal Rahmah yang dipercaya sebagai tempat pertemuan Adam dan Hawa setelah turun dari surga selalu dipadati peziarah, rumah tempat kelahiran Nabi, Masjid Jin, Gua Tsur yang pernah dijadikan tempat persembunyian Nabi menjelang hijrah dan masih banyak lainnya.
 
Salah satu tempat yang selalu ramai dikunjungi orang semasa musim haji adalah Jabal Nur, sebuah gunung batu tandus dan terjal menjulang, sekitar enam kilometer dari dari Masjidil Haram. Dalam kondisi yang susah payah sekalipun, setiap harinya jamaah haji baik tua maupun muda yang mendaki gunung ini bisa mencapai ribuan.
 
Nama nur (cahaya) untuk gunung tersebut karena konon gunung batu itu dulunya selalu nampak bercahaya di malam gelap, berbeda dengan gunung-gunung batu lainnya yang banyak ditemui di Makkah yang memang secara topografis merupakan kawasan yang dipenuhi dengan gunung batu.
 
"Sekarang di sekitarnya sudah penuh pemukiman, tiap malam lampu-lampu listrik dari pemukiman itu terang benderang sehingga cahaya dari tebing puncak Jabal Nur sudah tidak terlihat lagi," ujar Mashudi, seorang WNI yang sudah bertahun-tahun bermukim di Arab Saudi.
 
Tidak ada informasi secara pasti, asal cahaya dari bebatuan tebing Jabal Nur. Ada pendapat menyebutkan berasal dari pospor kotoran burung yang terkumpul selama berabad-abad. Setiap tahunnya, Jabal Nur memang selalu disinggahi burung-burung yang bermigrasi sebelum meneruskan perjalanan ke utara ataupun ke selatan.
 
Makkah yang jarang tersiram hujan memungkinkan untuk membuat kotoran itu semakin lama terkumpul, menempel dan mengering di tebing batu. Di luar musim migrasi, di tebing itu juga bersarang ratusan pasang merpati yang hidup bebas dan liar di Saudi.
 
Jalan untuk mencapai puncak Jabal Nur, tidak mudah dilalui. Selain terjal, yang disebut jalan hanyalah sebuah jalan setapak dicipta sendiri para pendaki di sela-sela bebatuan. Meskipun gunungnya tidak seberapa tinggi, jalan yang memutar-mutar itu bisa mencapai jarak antara 1,5 hingga dua kilometer untuk sampai ke puncak.
 
Setiba di puncak gunung, para peziarah masih harus kembali turun ke punggung gunung, di sebalik jalan yang dilalui semula. Jalannya jauh lebih sulit, namun ke tempat itulah tujuan utama para peziarah bersusah payah mendaki.
 
Di punggung gunung itu terdapat Gua Hira yang bersejarah, yang hampir pasti diketahui semua muslim di dunia. Disitulah Nabi Muhammad pertama kali menerima wahyu dari Allah melalui perantaraan Malaikat Jibril, setelah menjalani proses laku rohani selama 40 hari berdiam di dalam gua yang tidak seberapa luas itu.
 
Tidak ada jalan lain menuju Gua Hira selain harus memutar-mutar melalui tebing gunung di sebaliknya tadi. Sebab tebing Jabal Nur yang berada persis di bawah Gua Hira jauh lebih terjal lagi sehingga hampir mustahil untuk bisa dilalui.
 
Pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang menganut paham Wahabi tidak memberikan perhatian khusus untuk sarana dan prasana perziarahan itu. Bahkan seperti di lokasi-lokasi perziarahan lainnya di Makkah dan Madinah, bukit dipasang papan besar menyolok di lokasi yang dapat dapat dilihat dari kejauhan.
 
Tulisannya menyiratkan agar peziarah tidak melakukan hal-hal yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad. Termasuk salah satu yang dituliskan adalah bahwa Nabi Muhammad tidak pernah naik ke gunung tersebut. Tentunya yang dimaksud adalah yang dilakukan Nabi Muhammad setelah kenabiannya dikukuhkan Tuhan.
 
Dengan himbauan itu maka dapat ditangkap bahwa Pemerintah Arab tidak menganjurkan pendakian Jabal Nur sehingga dapat dimaklumi mengapa tidak memberikan sarana dan prasarana memadai.
 
Pemerintah Arab Saudi yang Wahabi memang berhak mengingatkan 'tamu-tamunya' sesuai pemahamannya, namun para tamu yang berdatangan rupanya juga mempunyai pembenar tersendiri untuk tindakan yang dilakukannya. Para peziarah Indonesia, umumnya menyebut perziarahan dilakukan untuk mengambil hikmahnya.
 
"Ingin tahu secara langsung tempat pertamakali junjungan kita (Nabi Muhammad) menerima wahyu. Kita bisa mengambil hikmah betapa berat perjuangan beliau menuju kenabian. Kita bisa mengambil teladan darinya dalam kehidupan kita sehari-hari," ujar Bukhori, seorang jamaah haji asal Tangerang.
 
Bhukori bersama istrinya berjuang keras untuk bisa mencapai puncak Jabal Nur dan masuk Gua Hira untuk mengambil hikmah itu. Di usia mereka yang sudah tidak lagi muda, tentu keduanya harus beberapa kali istirahat.
 
Pendapat tentang hikmah perziarahan serupa juga disampaikan Minan, jamaah asal Solo. Selagi ada kesempatan dan itu tidak menyalahi aturan agama, menurut Minan, tidak ada salahnya kita datang berziarah ke tempat-tempat tertentu.
 
"Berziarah ke makam bukan untuk meminta kepada si mati tapi untuk mengingatkan kita kepada kematian. Berziarah di tempat bersejarah bukan untuk memujanya tapi untuk mengambil himah yang akan semakin menebalkan keyakinan serta semakin memupuk rasa hormat kita kepada Nabi Muhammad atas ketabahannya untuk membebaskan umat manusia dari kebodohan," paparnya.
 
Jamaah Indonesia mungkin hanya akan sekedar melihat dari dekat lalu mengambil hikmah seperti yang disampaikan tadi, namun tidak sedikit jamaah-jamaah dari negara lain yang melakukan sholat sunah di dalam gua. Mereka rela berjejal antri untuk melakukannya. Kebanyakan mereka adalah jamaah dari Timur Tengah dan Turki.
 
Sikap-sikap yang seakan saling bertentangan itu sama-sama memiliki dasar untuk dilakukan, sesusai penafsiran masing-masing. Tidak ada yang bisa dipersalahkan karena memang adagium bahwa 'perbedaan adalah rahmat' selalu ditekankan bagi setiap muslim dalam menyikapi silang pendapat. (mbr/nvt)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads