Plak! Nasi-nasi bungkus tercampak jatuh ke air, tak termakan. Di atasnya tangan-tangan ringkih yang uzur dan lemah milik anak-anak terus bersaing melawan tangan-tangan kekar.
Lihat, ketika lapar dan haus telah menjerat, betapa tidak lagi berfungsi akal sehat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saya jadi ingat Oom Jansen van Oost-Java dkk, yang ketika bencana belum datang, gagah melancong ke Belanda atas nama mencari hari jadi Jawa Timur. Apa reaksi miliaran sel-sel di otak dan hati mereka saat ini, setelah membakar uang rakyat Jawa Timur 0,5 miliar untuk plezier ke Amsterdam?
Terngiang-ngiang kembali peringatan dari berbagai pihak, 'jangan ke Belanda sayang uangnya, hari jadi Jatim sudah jelas' tak digubris, karena Oom Jansen dkk sudah lapar. Zij hebben echt honger, mereka sungguh lapar. Makanya semua itu tak mempan. Tapi laparnya Oom Jansen dkk ini lapar pada lezatnya Amsterdam, yang berhias cantiknya gadis-gadis bule nan memerah kulitnya di musim panas.
Saat hari kering, duit semiliar, dua miliar dihambur di negara sana, dibakar di negeri sini. Totalnya bisa bermiliar-miliar. So what, duit ada. Kita kaya. Kalau bisa seluruh dunia dikunjungi, alasan bisa dicari, sudah dianggarkan, laporan kunjungan bisa disulap.
Kini, di mana kegagahanmu Oom Jansen, ketika bencana didatangkan dan rakyatmu bergelimpangan? Ketika sebagian orang yang memberikan peringatan sudah lelah atas kezaliman yang terus berjalan, lalu mereka berserah diri kepada Tuhan...
Katakanlah: Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami. (QS Al An'aam:65)
Mungkin mengenang Nabi Yusuf dan meneladaninya bisa jadi tombo ati. Sebagai bendahara negara, ketika panen gandum melimpah tak semua dihabiskan dan dibelanjakan, tapi disimpan untuk jaga-jaga menyambut paceklik dan masa-masa sulit.
Belajar dari Belanda melalui bantuan Cak Google juga bisa. Setelah banjir bandang menenggelamkan Belanda pada tengah malam 1/2/1953, menewaskan 1.836 manusia dan ribuan ternak, para pemimpin politik negeri itu memprioritaskan tanggul-tanggul dan pintu airnya. Sampai sekarang negeri ini tetap aman, meskipun 60% letaknya di bawah permukaan laut dan badai mengamuk setiap tahun.
Bukankah miliaran duit Jatim yang dibakar, seandainya ditempelkan untuk menata DAS Bengawan Solo, bisa mencegah keganasan luapannya dan memberi orang-orang sekitarnya pekerjaan? Ataukah Tuhan kembali mau disalahkan, lalu mau menunggu bencana lagi yang lebih besar?
Selamat bertahun baru Oom Jansen, dengan bertafakur... (es/es)











































