Jika di India, dinasti Gandhi begitu terkenal, rakyat Pakistan memiliki dinasti Bhutto yang juga populer. Darah politik mengalir turun-temurun.
Terbunuhnya Benazir usai berkampanye di Rawalpindi pada Kamis 27 desember lalu menyisakan duka mendalam. Perjuangannya menuntut demokrasi setelah 8 tahun di bawah rezim militer Presiden Pervez Musharraf harus berakhir tragis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ibu saya pernah berkata, demokrasi adalah cara paling amapuh untuk membalas dendam," demikian kalimat pertama yang diucapkan Bilawal usai dipilih untuk memimpin Partai Rakyat Pakistan (PPP).
Dalam jumpa pers di kediaman keluarganya di Naudero, Minggu (30/12/2007), Bilawal yang dipilih bersama ayahnya Asif Ali Zardari memimpin PPP, menyatakan siap menjadi figur untuk melanjutkan sejarah panjang perjuangan demokrasi partai yang didirikan kakeknya Zulfiqar Ali Bhutto.
Untuk itu, dia siap belajar banyak mengenai politik yang belum dikenalnya. Maklum sebagai mahasiswa ilmu hukum yang baru masuk tahun pertama di Univeriats Oxford, Inggris, kemampuan Bilawal diragukan banyak pihak.
Sosok Bilawal memang belum terlalu dikenal publik Pakistan. Namun jejak darah politik yang diwariskan ibunya diyakini berbagai kalangan, terutama pendukung PPP mengalir deras dari remaja yang dilahirkan pada Bulan September 1988 itu.
Bilawal dilahirkan sebulan sebelum Benazir memenangkan pemilu yang diselenggarakan oleh rezim Zia Ul Haq. Rezim yang menggantung kakeknya pada 1979 atas tuduhan korupsi. Ketika itu, Benazir menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai perdana menteri Pakistan.
"Saya tertidur dan kemudian terbangun oleh suara tembakan di luar rumah sakit. Suara drum dan teriak 'Jiye (hidup) Bhutto," kata Bilawal.
Dalam autobiografinya, Benazir menyebut Bilawal sebagai "Bayi yang paling dirayakan dan paling kontroversial dalam sejarah politik Pakistan telah dilahirkan."
Sejak 1999, Bilawal dan dua adik perempuannya, ikut serta dalam pengasingan Benazir. Dubai, Uni Emirat Arab dan London, Inggris adalah dua kota yang menjadi rumah keduanya.
Di kampusnya, Bilawal merupakan mahasiswa berprestasi. Kemampuan debat yang diwarisi dari ibunya membuat dia dipilih sebagai ketua komunitas debat Oxford, posisi yang pernah dijabat ibunya.
Selain debat, Bilawal yang dalam bahasa pakistan berarti "sesuatu tanpa ada yang menyamai" gemar dengan olahraga luar ruangan seperti menembak dan berkuda.
Kini, Bilawal menjadi Bhutto ketiga dalam hiruk-pikuk politik Pakistan. Mampukah dia meneruskan perjuangan ibunya yang terbunuh ketika menyuarakan demokrasi, hanya waktu yang mampu menjawabnya.
Pengamat politik Talal Masood menyampaikan cibirannya. "Bilawal baru 19 tahun. Dia belum mampu mengambil tanggung jawab itu. Mereka (PPP) seharusnya membiarkan dia menyelesaikan pendidikannya," cetusnya.
(bal/bal)











































