"Secara jujur harus diakui, hal itu (kedewasaan politik) sangat mempengaruhi dari elit-elit daerah yang hanya siap menang, tapi tidak siap kalah," ujar Ketua DPR Agung Laksono usai mengikuti gerak jalan santai dalam rangka HUT Golkar ke 43 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu (29/12/2007).
Menurut Wakil Ketum Golkar ini, kesadaran elit-elit lokal untuk menerima demokrasi secara sepenuhnya belum merata di daerah. Hal ini menyebabkan konflik horizontal sering terjadi dalam pilkada.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rivalitas yang demikian bisa mengganggu stabilitas politik lokal. Apalagi kalau yang satu kepala daerah, yang satunya lagi wakilnya. Ini yang saya lihat, ekses yang muncul selama pilkada 2007," kata Agung.
Agung juga mengatakan, belum jelasnya tata aturan main Pilkada juga menyebabkan terjadinya sengketa pilkada. Agung mencontohkan peraturan yang lebih rinci sebagai penjabaran teknis UU 32/2004.
Agung pun mengkritik kepala daerah yang menggunakan lebih dari separuh masa jabatannya untuk persiapan pilkada berikutnya.
"Sebaiknya perlu dipikirkan langkah-langkah yang lebih efektif, sehingga jangan sampai baru setahun terpilih jadi gubernur sudah memikirkan pemilu lagi. Harus ada aturan tentang batasan waktu yang dianggap pantas. Sebab banyak kepala daerah yang separuh waktunya untuk persiapa pemiku lagi," pungkas Agung.
(rmd/ndr)











































