Dikutip dari LA Times, Sabtu (29/12/2007), beberapa pekan sebelum Bhutto dibunuh, pemerintahan Bush telah memberikan informasi mengenai adanya ancaman bahaya terhadap Bhutto yang akan dilakukan oleh militan Pakistan. Namun, pemerintah Pakistan tidak merepons-nya dengan cepat.
Pemerintah AS telah diminta untuk menekan Presiden Pervez Musharraf agar memberikan pengawalan dan pengamanan yang ketat terhadap Bhutto. Namun, AS enggan memberikan penakanan, karena khawatir dianggap mencampuri urusan dalam negeri Pakistan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sampai akhirnya, Kamis (27/12/2007) lalu, Bhutto tewas dibunuh. Saat Bhutto berada di Taman Rawalpindi hingga orasi kampanye selesai, tak terlihat tentara atau polisi yang mengawal Bhutto. Begitu juga saat Bhutto naik ke mobil Land Cruiser putih dan menyapa para pendukungnya. Bhutto yang tanpa dikawal aparat keamanan sangat dekat dengan kerumunan orang, sehingga pelaku penembakan sangat mudah membunuhnya.
Husain Haqqani, mantan penasihat Bhutto mengatakan, pihaknya telah mendorong pemerintah AS untuk menekan Musharraf agar Bhutto mendapat pengamanan yang lebih baik. Tetapi, menurut dia, AS tidak mau melakukannya karena khawatir dituduh mengurus urusan dalam negeri negara lain.
Haqqani membeberkan sebenarnya Bhutto ingin menyewa pengawal internasional untuk melindungi dirinya. Namun, Musharraf tidak memberi izin pengawalan internasional beroperasi di Pakistan, meski Bhutto ingin membayar penyewaan pengawalan itu dengan uangnya sendiri.
Saat ini banyak pihak menuding terbunuhnya Bhutto diakibatkan pemerintah Musharraf kurang memberikan pengamanan yang memadai kepada tokoh politik yang akan bertarung dalam Pemilu 8 Januari 2008. Entah karena tekanan ini pula, pemerintah Pakistan buru-buru menyatakan bahwa Bhutto tewas bukan ditembak, tapi karena terbentur sun roof mobilnya. (asy/nvt)











































