Entah naif, entah jahil, entah keblinger. Stempel 'Jawaz' dari MUI untuk Royal Game memang blunder besar.
Kalau melihat foto mesin ketangkasan Royal Game di detikcom (detikfoto, 27/12/2007), yakni semacam triple fruit dan sejenisnya, jelas itu di Belanda diklasifikasikan sebagai judi dan dipajaki sebagai bisnis judi (kansspel).
Pernah sebuah raksasa 'bisnis ketangkasan' dari Amerika, Harrahโs, mau masuk kota Maastricht (2006). Konsepnya malah diramu satu paket dengan hotel, fasilitas kongres, dan bioskop. Proyek ini diklaim bakal menjadi leisure center terbesar dan bakal menjadi pendorong struktur ekonomi di kota wisata paling selatan Belanda itu.
Tapi masyarakat Maastricht yang basis Kristennya masih kuat itu menolak dan ramai-ramai menyatakan itu judi. Sikap ini didukung partai Kristen Demokrat dan Partai Sosialis, yang melihat bahwa mesin ketangkasan itu bukan akan membangun ekonomi tapi malah akan menghancurkan.
Dalam surat keputusan pemda (Siaran Pers College van B&W Maastricht, 21/02/2006) pada bagian konklusi disebutkan, bahwa "Harrah's memang telah menyuguhkan ikan besar, tapi 'kota' yang tetap masih menentukan bagaimana dan kapan ikan ini sampai pada menu Maastricht."
Dijelaskan, yang dimaksud dengan 'kota' dalam surat itu adalah masyarakat Maastricht dalam arti luas, yakni para wakil rakyat, pemerintah daerah, warga, kalangan pengusaha dan berbagai pihak terkait. Harrah's akhirnya ditolak dan gagal menancapkan mesin-mesin pengisap uangnya di sana.
Pada butir kedua konsideran bahkan disebutkan bahwa Maastricht tidak mau masyarakatnya kecanduan permainan ketangkasan itu, sebuah istilah yang sesungguhnya merupakan eufismisme dan taktik untuk menghaluskan judi yang dilarang oleh gereja.
Nah, di Bandung bagaimana mungkin MUI sebagai lembaga Islam penggembala moral umat dengan stempelnya yang terpandang itu malah menyambut Royal Game? Hanya Allah dan para 'U' yang duduk di sana yang tahu.
Tidak (mau) tahukah MUI bahwa pusat-pusat permainan ketangkasan seperti itu selain selalu diikuti oleh perilaku ketagihan atau kecanduan masyarakat, juga maraknya kriminalitas dari kelas kecoa hingga mafia, prostitusi terselubung, hingga narkoba?
Oleh sebab itu sikap Polwiltabes untuk melakukan penolakan merupakan keputusan sangat wajar. Polisi tentu tidak mau digelontor problem tambahan. Sementara sang pemilik mesin bakal enak mengeruk uangnya, polisi akan kebagian beban ekstra dan sampah masalahnya.
Mengenai tempik sorak politisi di Bandung bahwa pusat ketangkasan itu akan menaikkan PAD dan menguntungkan perekonomian Bandung, ini juga konyol. Kalau MUI dan politisi sudah begini, ini sungguh bencana.
Betulkah demikian? Prof. Luc Soete, gurubesar Ekonomi dan periset pada UNU-MERIT (sebuah lembaga riset milik United Nations University/UNU) berasosiasi dengan Maastricht University, menyatakan bahwa pusat-pusat permainan ketangkasan itu tidak mendatangkan nilai ekonomi apapun.
Potensi kehilangan pekerjaan dan pendapatan juga sama besarnya dengan lapangan pekerjaan baru dan pendapatan dari pusat ketangkasan itu. Ini artinya sama saja fatamorgana.
Dalam konteks Harrah's, dengan pendekatan sangat konservatif Prof. Soete menghitung bahwa jika 1% saja dari pengunjung mengalami ketagihan, ditambah potensi meningkatnya kriminalitas, maka ongkos sosialnya akan mencapai EUR280 juta.
Sementara 'keuntungan' yang dihasilkan dari Harrah's berupa 4.400 lapangan kerja dengan total nilai EUR176 juta plus EUR100 juta pendapatan pajak. Jika ditotal cuma ada EUR276 juta. Masyarakat tetap yang dirugikan! Lalu apanya yang untung dan siapa yang diuntungkan?
Keterangan Penulis:
Penulis adalah koresponden detikcom di Belanda. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja. (es/es)











































