BNPB Deteksi 19 Ribu Hotspot Karhutla di RI, Terbanyak Kalteng

BNPB Deteksi 19 Ribu Hotspot Karhutla di RI, Terbanyak Kalteng

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Minggu, 25 Okt 2026 09:04 WIB
Antisipasi Karhutla Menyebar, Warga Kalteng Berjaga Sampai Malam
Foto: Karhutla di Kalteng (Reuters)
Jakarta -

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memantau lebih dari 19 ribu titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Karhutla di Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Sumatera Selatan (Sumsel) menjadi perhatian utama pemadaman.

"Tren hotspot dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan bahwa kondisi karhutla masih dinamis. Ada penurunan di sejumlah wilayah, tetapi di wilayah lain titik panas dan luas kebakaran justru meningkat," kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, kepada wartawan, Minggu (25/10/2026).

"Karena itu, kita tidak bisa hanya melihat penurunan hotspot dalam satu hari sebagai tanda bahwa karhutla sudah terkendali," imbuhnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berton mengatakan sebanyak 19 ribu lebih hotspot masih terpantau. Dia menyebut pekerjaan untuk pemadaman dan pendinginan masih cukup besar.

ADVERTISEMENT

"Berdasarkan pemantauan BNPB per 23 Oktober 2026 pukul 15.00 WIB, tercatat 19.708 titik panas secara nasional, dengan luas terbakar sekitar 41.554 hektare dan sekitar 26.681 hektare masih belum padam. Angka ini menunjukkan bahwa pekerjaan pemadaman dan pendinginan masih cukup besar," tutur dia.

Lebih lanjut, Berton mengatakan wilayah Kalimatan Tengah masih menjadi perhatian utama pemadaman karhutla. Lebih dari 13 ribu titik panas terpantau.

"Kalimantan Tengah menjadi perhatian utama. Tercatat 13.297 titik panas, luas terbakar 25.942 hektare, dan sekitar 19.076 hektare masih belum padam. Selain itu, Sumatera Selatan juga menjadi prioritas karena masih terdapat sekitar 2.187 hektare yang belum padam. Jambi perlu mendapat perhatian karena luas yang belum padam meningkat menjadi 716 hektare, dibandingkan 377 hektare pada hari sebelumnya untuk indikator luas yang belum padam," ucap dia.

Dia menambahkan bahwa di Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur, sejumlah indikator menunjukkan penurunan dibandingkan hari sebelumnya. Namun, kata dia, penurunan tersebut tidak berarti penanganan dapat dihentikan.

"Pemadaman, pendinginan, dan patroli tetap harus dilanjutkan untuk mencegah api kembali menyala," jelasnya.

BNPB mengerahkan personel darat, helikopter water bombing, pesawat patroli, serta Operasi Modifikasi Cuaca. Pada 22 Oktober, tercatat 71.878 personel darat dan 58 armada udara dalam dukungan penanganan.

"OMC menggunakan dry ice dan NaCl dilaksanakan di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. Hasil yang dilaporkan mencakup hujan di sebagian wilayah Kalimantan Tengah, serta peningkatan jarak pandang dan penurunan PM2.5 di Sumatera Selatan. Hasil ini tetap perlu dievaluasi dan tidak boleh dianggap sebagai bukti bahwa seluruh sumber api telah padam," jelasnya.

Berton mengatakan prioritas pemerintah saat ini adalah memastikan karhutla benar-benar padam. BNPB juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah untuk penanganan karhutla.

"Prioritas kami adalah memastikan api benar-benar padam, terutama di lahan gambut, melindungi masyarakat dari paparan asap, serta mencegah kebakaran berulang. Kami juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan kementerian/lembaga terkait. Penanganan tidak hanya diukur dari penurunan hotspot, tetapi dari berkurangnya luas kebakaran yang belum padam dan terlindunginya masyarakat," tutupnya.

(lir/idh)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini