"Saya punya kenangan bersamanya, saat kami bertemu di Pakistan. Ketika saya menjadi anggota DPR, dia menjadi perdana menteri. Dia itu orangnya cantik, cerdas, berani, kalem dan kulitnya resik," ujar Mbah Tardjo di DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (28/12/2007).
Karena itu, Mbah Tardjo mengaku berduka sekaligus marah atas tewasnya pemimpin oposisi Pakistan itu. Sedih karena kematian pemimpin perempuan yang berani. Marah karena dibunuh.
Menurut politisi gaek PDIP ini, kematian Bhutto dalam memperjuangkan demokrasi layak menjadi perhatian dunia yang menganut sistem demokrasi, khususnya Indonesia. Karena itu Mbah Tardjo berharap pemerintahan SB-JK benar-benar mengambil pelajaran atas insiden ini.
"Jangan sampai kejadian serupa terulang di Indonesia. Pemerintah harus mengantisipasi, apalagi saat-saat menjelang pemilu," imbuh Mbah Tardjo.
(nik/nrl)











































