"Meski saya tidak pernah bertemu langsung, saya sering berkomunikasi melalui e-mail," kata Yenny, panggilan akrabnya, pada detikcom, Jumat (28/12/2007).
Yenny mengatakan, ia selalu mengikuti jejak karir Bhutto. "Saya sangat mengagumi Benazir Bhutto karena memiliki kesamaan. Yakni berasal dari keluarga politikus, perempuan yang meneruskan perjuangan politik para sesepuh kami dan sekolah di luar negeri tapi tetap kembali ke akar tradisional. Karenanya saya selalu mengikuti wawancara beliau di mana-mana," ungkap lulusan Universitas Harvard, AS, ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kekerasan dalam politik merupakan ancaman besar dalam demokrasi. Ini menunjukkan bahwa politik dengan cara kekerasan masih menjadi pilihan. Ini harus dihindari agar proses demokrasi berjalan lancar," ujar politisi PKB ini.
Yenny menambahkan, dirinya sangat kehilangan figur yang menjadi inspirasi. Apalagi karena Bhutto meninggal saat sedang memperjuangkan kesejahteraan dan demokrasi untuk rakyat Pakistan.
"Saya sangat sedih dan kehilangan figur perempuan yang berani dan cerdas karena Benazir adalah salah satu inspirasi saya," ujar eks staf khusus Presiden SBY ini.
Sebagai ucapan belasungkawa, DPP PKB sebagai bagian organisasi partai politik di Asia Pasifik mengucapkan turut berduka cita dengan mengirimkan bunga ke Kedubes Pakistan di Jakarta. (ziz/nrl)











































