Anggota Komisi IV DPR Daniel Johan berduka atas gugurnya relawan pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat bertugas di Kalimantan Selatan. Dia meminta pemerintah meningkatkan standar alat pelindung diri (APD).
"Saya menyampaikan duka yang dalam atas gugurnya para relawan pemadam karhutla, termasuk Bapak Nurdin di Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Mereka adalah pahlawan yang berjibaku di garis depan demi melindungi masyarakat," ujar Daniel kepada wartawan, Jumat (23/10/2026).
Dia mengatakan standar keselamatan relawan harus dievaluasi. Dia mendesak pemerintah segera meningkatkan standar APD yang digunakan para petugas pemadam karhutla.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentu standar keselamatan relawan harus dievaluasi. Pemerintah wajib memastikan para pemadam, baik petugas maupun relawan, mendapat masker berstandar tinggi yang mampu menyaring asap, serta APD lengkap seperti helm, sepatu, dan sarung tangan," ujarnya.
Dia mengatakan negara harus menyediakan APD, bukan relawan. Dia mengatakan para relawan bekerja dengan risiko tinggi.
"Ini harus menjadi standar yang disiapkan negara, bukan diserahkan pada kemampuan swadaya relawan. Kita prihatin, anak bangsa bekerja dengan risiko besar sementara dukungan fasilitas dari negara masih minim," ujarnya.
Politikus PKB ini juga mendukung karhutla segera ditetapkan sebagai bencana nasional. Dia mengatakan aspirasi tersebut terus disuarakan oleh warga di daerah terdampak karhutla.
"Kami mendorong ditetapkannya karhutla sebagai bencana nasional. Aspirasi ini terus disuarakan masyarakat Kalimantan, Sumatera, dan Papua yang wilayah hutannya terbakar. Dengan status tersebut, penanganan, pendanaan, dan perlindungan bagi relawan bisa lebih cepat dan tuntas," ujarnya.
Sebelumnya,relawan pemadam, Nurdin, meninggal dunia saat berjuang memadamkan karhutla di Barito Kuala (Batola) Kalimantan Selatan. Asap tebal di lokasi membuatnya mengalami sakit dada hingga diberi oksigen sebelum akhirnya wafat.
Salah seorang rekan Nurdin, Amat, mengungkapkan, sebelum berangkat, kondisi Nurdin sehat dan tidak menunjukkan gelagat apa pun. Namun, di tengah pekatnya asap karhutla tersebut, rekannya menyebut Nurdin yang hanya mengenakan masker seadanya mendadak mengeluh mengalami sakit dadanya.
Saat memadamkan api di belakang kantor Kecamatan Handil Bakti, rekannya sempat memintanya beristirahat sambil memberikan oksigen. Namun Nurdin tetap mengeluhkan sakit dada.
"Dia mengeluhkan sakit dada, kemudian saya bilang istirahat dulu. Sambil diberi oksigen, tetapi dia tetap bilang sakit dadanya," ujar Amat, dilansir detikKalimantan, Kamis (22/10).
