Kepala Pembunuh Bhutto Terbelah

Kepala Pembunuh Bhutto Terbelah

- detikNews
Jumat, 28 Des 2007 11:42 WIB
Rawalpindi - Potongan daging manusia dan ceceran darah menjadi saksi bisu tewasnya pemimpin oposisi Pakistan Benazir Bhutto. Di antaranya, ada potongan kepala pembunuh Bhutto yang terbelah dua.

"Tiba-tiba saya melihat sebuah kepala. Kepala itu terpotong separuh secara vertikal. Anda hanya bisa mendapati rambutnya dan kulitnya. tidak ada lagi yang bisa mengenalinya. Seorang polisi menjelaskan pada saya, 'Itulah kepala si pengebom'," kata seorang koresponden kantor berita AFP, Nasir Jaffry, Jumat (28/12/2007).

Jaffry berada beberapa meter dari serangan bunuh diri yang menewaskan Bhutto pada Kamis 27 Desember kemarin di Kota Rawalpindi, Pakistan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kejadiannya saat itu tepat pukul 17.16 waktu setempat. Mula-mula saya mendengar dua kali tembakan, dan saya berpikir, ada apa gerangan. Sebelum saya sempat menyadari apa yang terjadi, sebuah ledakan mengguncang," kisah Jaffry.

Selanjutnya, dia merasakan ledakan dahsyat. Dia melihat sebuah bola api besar dan asap membubung. Orang-orang berlarian panik dan terus berteriak, 'Ada bom! Bom!'

Saat itu, lanjut Jaffry, langit redup karena matahari nyaris tenggelam. Dia pun berjalan dan berusaha agar tidak menginjak mayat yang bergelimpangan di sekitarnya.

"Saya melihat tubuh di mana-mana, dan potongan daging manusia. Ada seorang pria tanpa kakinya, ada pula yang tanpa tangan. Ada puluhan orang terluka parah dan ceceran darah di jalan," ujarnya.

"Potongan tubuh pengebom itu berada di jalan. Ada potongan daging yang terbakar. Ada lainnya yang tidak terbakar, seperti daging segar. Merah darah," urai Jaffry.

Dia pun melihat sekilas ambulans putih melintas. Orang-orang menyebut, itulah kendaraan yang membawa Bhutto ke rumah sakit.

Sementara itu sebuah kendaraan pemadam kebakaran setempat tiba. Mereka mengambil selang dan mulai menyemprot jalan dengan air. Mereka berusaha untuk membersihkan jalan dari darah dan potongan daging.

"Orang-orang sangat syok, berpegangan satu sama lain. Pertama kalinya, mereka mendapat kabar bahwa Bhutto selamat. Saya mengingat di sana ada sekelompok pemuda yang tampak bahagia. Mereka berpikir Bhutto selamat," jelasnya.

Namun, tak lama kemudian, mereka akhirnya mendapat kabar hal itu tidak terjadi.

Jaffry saat itu berdiri di bawah jendela sebuah rumah di seberang taman. Dia melihat mantan pejabat negara Raja Shafqat Abassi berada di lantai satu rumah itu dan berteriak meraung.

"Dia (Bhutto) telah meninggalkan kita," ujar Abassi meratap. "Kita telah kehilangan pemimpin kita," teriaknya.

Saat kata-kata itu meluncur, orang-orang mulai berteriak dan menangis. Saat itu, di sana semua jalan diblokir oleh polisi. Namun Jaffry berusaha untuk bisa keluar dan mendapat sebuah mobil yang membawanya ke rumah sakit.

Di sana, ada sekitar seribu atau seribu limaratus orang. Mereka terus berteriak memaki Presiden Pervez Musharraf.

"Saya melihat seorang tua yang mencucurkan air mata. Dia berkata, kita kehilangan anak perempuan kita. Lalu ada juga anak muda yang berteriak, kami kehilangan kakak kami. Dan hampir semuanya berteriak, memaki Presiden," kata Jaffry.
(fiq/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads