Belum genap dua puluh empat jam yang lalu, mantan Perdana Menteri Pakistan Benazir Bhutto tewas di depan ribuan pendukungnya. Di Kota Rawalpindi, Bhutto menjadi tragedi terakhir di Asia Selatan selama enam dasawarsa terakhir. Demikian dilansir dari The Economic Times, Jumat (28/12/2007).
56 Tahun silam di kota yang sama, Pakistan baru saja menikmati empat tahun kemerdekaannya. Perdana Menteri pertama Pakistan, Liaquat Ali Khan saat itu dijadwalkan untuk menyampaikan pengumuman penting dalam sebuah pertemuan publik di Rawalpindi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ayah Benazir yang juga mantan PM Pakistan, Zulfikar Ali Bhutto tak luput dari kematian yang tragis. Dia dihukum gantung pada 4 April 1979 beberapa saat setelah pemimpin militer Zia ul-Haq melakukan kudeta.
Pada tahun yang sama, saudara laki-laki Bhutto, Shahnawaz Bhutto, dibunuh dalam situasi mencurigakan di Prancis. Tragedi seolah beruntun dalam dinasti Bhutto. Saudara laki-laki Bhutto yang lain, Mir Murtaza, tewas dibunuh pada 1996.
Sementara itu, lawan politik ayah Bhutto, Jenderal Zia ul-Haq yang menjadi Presiden Pakistan setelah melakukan kudeta pada 1979, tewas dalam kecelakaan pesawat yang misterius pada 17 Agustus 1988. Dia tewas bersama sejumlah perwira tinggi dan Duta Besar AS untuk Pakistan Arnold Lewis Raphel.
India
Yang paling mengejutkan dari seluruh pembunuhan tokoh politik di Asia Selatan adalah rentetan yang terjadi di India. Dunia seolah tersentak kaget saat saat 'Bapak Bangsa' Mahatma Gandhi dibunuh. Gandhi dibunuh oleh aktivis sayap kanan Hindu Nathuram Godse di luar kuil pada tahun 1947.
Sekitar 37 tahun kemudian, tepatnya pada pada 31 Oktober 1984, Perdana Menteri Indira Gandhi dibunuh oleh seorang pengawalnya sendiri.
Pembunuhan itu adalah bagian dari operasi 'Bintang Biru' yang dilakukan tentara untuk menghalau militan yang mengasingkan diri di Kuil Emas di Amritsar, India.
Seolah belum cukup, India kembali digoncang pembunuhan tragis.
Anak lelaki Indira yang juga menjabat Perdana Menteri, Rajiv Gandhi, dibunuh dalam serangan bom bunuh diri pada 21 Mei 1991.
Sri Lanka
Di negara tetangganya, Sri Lanka, pembunuhan terhadap tokoh politik terus bergolak saat pemerintah diguncang oleh kelompok Macan Pembebasan Tamil Eelam (LTTE). Perseteruan dengan kelompok yang dikenal sebagai militan Macan Tamil itu menambah angka tokoh-tokoh politik yang tewas dibunuh.
Saat tengah melakukan kunjungan politik di Kolombo, Presiden ketiga Sri Lanka, Ranasinghe Premadasa, tewas di tangan pelaku bom bunuh diri militan Macan Tamil pada 1 Mei 1993.
Pada 18 Desember 1999, suatu percobaan pembunuhan tokoh politik gagal dilakukan seorang wanita. Pengebom itu mengincar nyawa Presiden Chandrika Kumaratunga dalam pertemuan pemilu.
Kumaratunga selamat dalam peristiwa yang menewaskan 24 orang itu. Namun, satu mata presiden wanita itu terluka terkena serpihan bom, sehingga tidak bisa melihat.
Nepal
Di Nepal, pembunuhan yang paling mengerikan terjadi dalam dinasti politik mereka pada 1 Juni 2001. Raja Nepal Birendra, Ratu Aiswarya, Pangeran Nirajan dan lima orang lainnya tewas ditembak dengan senjata otomatis. Pelakunya tak lain, putra mahkota Dipendra.
Bangladesh
Bangladesh pun tak luput dari tragedi pembunuhan tokoh politik. Sheikh Mujibur Rahman, salah satu perintis kepemimpinan di Bangladesh, tewas pada 15 Agustus 1975. Saat itu sekelompok perwira muda menyerbu tempat tinggal presiden dengan kendaraan lapis baja. Mereka membunuh Rahman beserta keluarga dan para staf pribadinya.
Hanya anak perempuannya Syekh Hasina Wajed dan Syekh Rehana, yang luput dari pembunuhan itu. Keduanya saat itu tengah berkunjung ke Jerman Barat.
Enam tahun kemudian nyawa Presiden Ziaur Rahman melayang. Dia tewas dalam sebuah serangan yang dilakukan sebuah kelompok tentara pada 30 Mei 1981.
Ancaman pembunuhan masih belum berhenti di negeri itu. Anak Mujibur Rahman, Hasina Wajed, yang juga pemimpin Partai Awami juga pernah menjadi sasaran pembunuhan. Saat itu dia tengah mengikuti iring-iringan di Dhaka pada 21 Agustus 2004.
(fiq/nrl)











































