Gen Z Cari Kerja di Job Fair, Curhat Sering Kena Ghosting HR Perusahaan

Gen Z Cari Kerja di Job Fair, Curhat Sering Kena Ghosting HR Perusahaan

Shonya Nur Rohmatunnisya - detikNews
Kamis, 22 Okt 2026 16:04 WIB
Suasana di job fair Jakarta (Shonya/detikcom)
Suasana di job fair Jakarta (Shonya/detikcom)
Jakarta -

Pemprov DKI Jakarta menggelar job fair 'bertajuk Jakarta dan Tenaga Kerja Mandiri Expo 2026'. Para Gen Z pun ramai-ramai mendatangi job fair ini dengan harapan segera mendapatkan pekerjaan.

Salah satunya Haekal (23), yang merupakan lulusan Farmasi Apoteker. Dia mengatakan sudah beberapa kali menjalani wawancara atau interview.

"Iya, jujur sekarang sih susah banget karena banyak company yang masih fresh hiring ya, jadi saya sekarang masih struggle di interview-interview sih. Sebenarnya karena kan kayak kalau kita koordinasi langsung, tapi ketika dibicarain pakai suara tuh kayak jadi kurang gitu loh, kurang bisa menceritakan di interview-nya, paling struggle," kata Haekal di Smesco, Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Haekal bercerita sering tidak mendapatkan informasi lanjutan. Dia mengaku sering 'di-ghosting' atau dibiarkan menunggu tanpa kepastian oleh pihak perusahaan tempat dirinya melamar.

ADVERTISEMENT

"Kendala sih paling ketika kita udah lamar dan lain-lain, tapi HR atau pihak dari sana tuh nggak ada informasi sih, gitu ya. Itu yang paling susah bagi saya. Jadi kita ditinggalin, kayak 'di-ghosting' gitulah sebutannya ya bagi Gen Z, mungkin itu sih palingan," ujarnya.

Pencari kerja bernama Haekal (Shonya/detikcom)Pencari kerja bernama Haekal (Shonya/detikcom)

Gen Z lainnya, Ayu (23), juga bercerita masih mencari pekerjaan setelah lulus. Dia mengaku ingin mengubah karir dari pegawai marketing ke analis data.

"Iya, karena switch career dari marketing ke data analyst," kata Ayu.

Ayu mengungkapkan kendalanya dalam mengubah karier harus memperbanyak skill dan proyek. Selain itu, pengalaman kerja menjadi kendala yang dia alami.

"Iya, harus ubah CV, juga harus mempertambah skill, harus banyak nambahin proyek, terus juga beberapa lowongan juga harus punya pengalaman kan, 2 tahun, 5 tahun, untuk dapatin jadi staf data analyst. Nah, di situ struggle-nya, jadi harus ikut banyak bootcamp," ujar Ayu.

Ayu mengatakan kuota pelamar sangat terbatas. Lowongan yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah pelamar.

"Eh, kalau dari aku sih, melihat juga sih dari kuota pelamarnya. Terus juga keterimanya kansnya itu sangat-sangat rendah, gitu. Jadi menurut saya, menurut aku sih, kalau untuk di Indonesia, banyak lowongan yang lebih ke sales. Sedangkan namanya juga fresh graduate pasti dari semua bidang, kan, di situ ada gap di antara lowongannya sama si orang-orang yang lagi lamar kerja," katanya.

Simak juga Video 'Tangis Ayah Temani Anaknya yang Disabilitas Cari Kerja di Karir Jakarta':

Halaman 2 dari 2
(haf/haf)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini