Besar di keluarga politikus, hidup Bhutto jauh dari kata damai. Ayahnya, Zulfikar Ali Bhutto, tewas di tiang gantungan pada tahun 1979. Dua kakak lelakinya tewas dibunuh. Namun di negeri orang tempat Bhutto mengenyam pendidikan, hidupnya terbilang 'senang'.
Meski seorang muslim, Bhutto remaja mengenyam pendidikan di sekolah Katolik ala Inggris di Pakistan. Setelah berusia 16 tahun, dia dikirim ke Radcliffe College di Cambridge, Massachussetts.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati begitu, Nona Bhutto tetap fashionable. Pakaiannya berasal dari Saks Fifth Avenue, yang dikenal sebagai tempat belanja 'wah' di negeri Paman Sam. Hidupnya seperti remaja kaya raya yang manja.
Setelah lulus dari Radcliffe College, darah politik di tubuh Bhutto bergolak. Dia melanjutkan ke Oxford, Inggris, mempelajari ilmu Hukum dan Politik. Tentu saja dia ingin memasuki maraknya politik Pakistan, yang sudah mendarah daging di keluarganya.
Di Oxford, gaya hidup Bhutto menggila. Belajar jalan terus, namun alkohol juga setia menemaninya. Kendati hal itu dibantahnya kemudian, Bhutto dikenal suka dugem. Pulang dugem, biasanya dia kembali ke rumahnya dengan teman prianya. "Gaya hidupnya ketika di Oxford menjadi parodi gadis remaja Islam yang kaya yang baru melihat dunia. Ketika dia berpidato untuk menjadi presiden senat Oxford, dia menggunakan rumor tentang gaya hidupnya yang tidak Islami untuk menarik pemilih pria," kata seorang teman Bhutto di Oxford, seperti diberitakan dailymail, Jumat (28/1/2007).
Sayang, jabatan Ketua Senat yang diincarnya melayang. Dia hanya menduduki peringkat ketiga di pemilihan yang pertama kali diikutinya. Baru setelah dia mengambil S2 bidang Politik, Filosofi, dan Ekonomi, Bhutto yang semakin matang berhasil mendapatkan jabatan penting di kampus terkenal itu.
Setelah 8 tahun meninggalkan Pakistan, Bhutto kembali ke tanah airnya di tahun 1977 bertepatan masa studinya yang telah berakhir. Pada saat itu pula pemerintahan ayahnya dalam kondisi krisis.
Kesenangan hidup yang serba wah pelan-pelan mulai hilang. Ayahnya tewas di tiang gantungan pada tahun 1979, di Rawalpindi. Bhutto dan keluarganya harus merasakan tahanan rumah beberapa bulan kemudian, selama 6 tahun.
Dalam pengasingan di rumahnya, Bhutto jatuh sakit. Sakitnya yang terbilang payah membuatnya diizinkan menjalani perawatan di Inggris. Bhutto baru kembali ke Pakistan tahun 1986 dan mendapat sambutan meriah pendukungnya di Lahore. (ana/nrl)











































