Zulfikar tewas digantung oleh pemerintah militer Pakistan di bawah pimpinan Zia ul-Haq pada tahun 1979. Sedang Benazir tewas dalam sebuah insiden tembakan dan bom bunuh diri pada 27 Desember 2007. Buah kelapa memang jatuh tidak jauh dari pohonnya.
Benazir lahir di Karachi, Pakistan pada 21 Juni 1953. Ia mulai belajar di Taman Kanak-kanak Lady Jennings dan kemudian di Convent of Jesus and Mary di Karachi. Setelah dua tahun belajar di Rawalpindi Presentation Convent, ia dikirim ke Jesus and Mary Convent di Murree.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Benazir terpilih sebagai Perdana Menteri Pakistan pada tahun 1988. Namun 20 bulan kemudian, kekuasaannya dijatuhkan oleh presiden negara itu yang didukung militer, Ghulam Ishaq Khan, yang secara kontroversial menggunakan Amandemen ke-8 untuk membubarkan parlemen dan memaksa diselenggarakannya pemilihan umum.
Benazir terpilih kembali pada tahun 1993, namun tiga tahun kemudian diberhentikan di tengah berbagai skandal korupsi oleh presiden yang berkuasa waktu itu, Farooq Leghari, yang juga menggunakan kekuasaan pertimbangan khusus yang diberikan oleh Amandemen ke-8.
Setelah dipecat oleh presiden Pakistan saat itu dengan tuduhan korupsi, partai Benazir, Partai Rakyat Pakistan kalah dalam pemilihan umum yang diselenggarakan di bulan Oktober. Ia menjadi pemimpin oposisi sementara Nawaz Sharif menjadi perdana menteri selama tiga tahun berikutnya. Ketika pemilihan umum Oktober 1993 kembali diadakan, yang dimenangkan oleh koalisi PPP, yang mengembalikan Bhutto ke dalam jabatannya hingga 1996, pemerintahannya sekali lagi dibubarkan atas tuduhan korupsi.
Benazir sejak tahun 1999 tinggal dalam pengasingan dan ia mengasuh anak dan ibunya yang menderita penyakit Alzheimer. Ia juga berkeliling dunia untuk memberikan kuliah dan tetap menjaga hubungannya dengan para pendukung Partai Rakyat Pakistan.
Benazir dan ketiga orang anaknya (Bilawal, Bakhtawar, dan Asifa) dipersatukan kembali bersama suami serta ayah mereka pada bulan Desember 2004 setelah lebih dari lima tahun terpisah. Benazir telah bersumpah untuk kembali ke Pakistan dan mencalonkan diri kembali sebagai Perdana Menteri dalam pemilihan umum yang dijadwalkan pada November 2007 mendatang.
Tanggal 18 Oktober 2007, ia kembali ke Pakistan setelah mengasingkan diri di Inggris untuk mempersiapkan diri mengahadapi pemilu. Dalam perjalanan menuju sebuah pertemuan, dua buah bom meledak di dekat rombongan yang membawanya. Benazir selamat, namun sedikitnya 126 orang tewas dalam peristiwa tersebut.
27 Desember, Benazir tewas oleh tembakan serta bom bunuh diri dari orang yang tak dikenal. Dunia pun berkabung atas kematian pemimpin muslim pertama pasca kolonial ini. Semoga dinasti Bhutto berikutnya tidak mengalami hal serupa. Selamat jalan Benazir. Dunia tahu, perjuanganmu selama ini tak sia-sia.
(anw/gah)











































