Dinasti Bhutto, Ayah Tewas Digantung, Anak Tewas Ditembak

Dinasti Bhutto, Ayah Tewas Digantung, Anak Tewas Ditembak

- detikNews
Jumat, 28 Des 2007 01:51 WIB
Jakarta - Jejak politik Benazir Bhutto terinspirasi oleh sang ayah, Zulfikar Ali Bhutto. Zulfikar pernah memimpin Pakistan di era 70-an. Sementara Benazir mulai menjadi Perdana Menteri Pakistan pada tahun 1988. Keduanya pun tewas dalam kondisi yang sama-sama mengenaskan.

Zulfikar tewas digantung oleh pemerintah militer Pakistan di bawah pimpinan Zia ul-Haq pada tahun 1979. Sedang Benazir tewas dalam sebuah insiden tembakan dan bom bunuh diri pada 27 Desember 2007. Buah kelapa memang jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Benazir lahir di Karachi, Pakistan pada 21 Juni 1953. Ia mulai belajar di Taman Kanak-kanak Lady Jennings dan kemudian di Convent of Jesus and Mary di Karachi. Setelah dua tahun belajar di Rawalpindi Presentation Convent, ia dikirim ke Jesus and Mary Convent di Murree.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada bulan April 1969, ia diterima di Radcliffe College, Universitas Harvard. Bulan Juni 1973, Benazir lulus dari Harvard dengan gelar dalam ilmu politik. Ia kemudian masuk ke Universitas Oxford pada musim gugur 1973 dan lulus dengan gelar Magister dalam bidang Filsafat, Politik, dan Ekonomi. Ia terpilih menjadi Presiden dari Oxford Union yang bergengsi.

Benazir terpilih sebagai Perdana Menteri Pakistan pada tahun 1988. Namun 20 bulan kemudian, kekuasaannya dijatuhkan oleh presiden negara itu yang didukung militer, Ghulam Ishaq Khan, yang secara kontroversial menggunakan Amandemen ke-8 untuk membubarkan parlemen dan memaksa diselenggarakannya pemilihan umum.

Benazir terpilih kembali pada tahun 1993, namun tiga tahun kemudian diberhentikan di tengah berbagai skandal korupsi oleh presiden yang berkuasa waktu itu, Farooq Leghari, yang juga menggunakan kekuasaan pertimbangan khusus yang diberikan oleh Amandemen ke-8.

Setelah dipecat oleh presiden Pakistan saat itu dengan tuduhan korupsi, partai Benazir, Partai Rakyat Pakistan kalah dalam pemilihan umum yang diselenggarakan di bulan Oktober. Ia menjadi pemimpin oposisi sementara Nawaz Sharif menjadi perdana menteri selama tiga tahun berikutnya. Ketika pemilihan umum Oktober 1993 kembali diadakan, yang dimenangkan oleh koalisi PPP, yang mengembalikan Bhutto ke dalam jabatannya hingga 1996, pemerintahannya sekali lagi dibubarkan atas tuduhan korupsi.

Benazir sejak tahun 1999 tinggal dalam pengasingan dan ia mengasuh anak dan ibunya yang menderita penyakit Alzheimer. Ia juga berkeliling dunia untuk memberikan kuliah dan tetap menjaga hubungannya dengan para pendukung Partai Rakyat Pakistan.

Benazir dan ketiga orang anaknya (Bilawal, Bakhtawar, dan Asifa) dipersatukan kembali bersama suami serta ayah mereka pada bulan Desember 2004 setelah lebih dari lima tahun terpisah. Benazir telah bersumpah untuk kembali ke Pakistan dan mencalonkan diri kembali sebagai Perdana Menteri dalam pemilihan umum yang dijadwalkan pada November 2007 mendatang.

Tanggal 18 Oktober 2007, ia kembali ke Pakistan setelah mengasingkan diri di Inggris untuk mempersiapkan diri mengahadapi pemilu. Dalam perjalanan menuju sebuah pertemuan, dua buah bom meledak di dekat rombongan yang membawanya. Benazir selamat, namun sedikitnya 126 orang tewas dalam peristiwa tersebut.

27 Desember, Benazir tewas oleh tembakan serta bom bunuh diri dari orang yang tak dikenal. Dunia pun berkabung atas kematian pemimpin muslim pertama pasca kolonial ini. Semoga dinasti Bhutto berikutnya tidak mengalami hal serupa. Selamat jalan Benazir. Dunia tahu, perjuanganmu selama ini tak sia-sia.
(anw/gah)


Berita Terkait