Said Abdullah Sebut Kekeringan dan Karhutla Tak Boleh Dianggap Musiman

Said Abdullah Sebut Kekeringan dan Karhutla Tak Boleh Dianggap Musiman

Nada Herwando Kartika - detikNews
Rabu, 21 Okt 2026 18:48 WIB
Said Abdullah
Foto: dok. Said Abdullah
Jakarta -

Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Said Abdullah mengingatkan pemerintah daerah untuk memperkuat mitigasi menghadapi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di berbagai wilayah Jawa Timur selama musim kemarau.

Menurut Said, kekeringan dan karhutla tidak boleh terus diperlakukan sebagai kejadian musiman yang baru ditangani setelah masyarakat kesulitan mendapatkan air atau ketika api sudah membakar kawasan hutan.

"Kita prihatin melihat saudara-saudara kita di berbagai daerah harus menghadapi krisis air, sementara pada saat yang sama kebakaran terjadi di sejumlah kawasan pegunungan. Kejadian seperti ini berulang hampir setiap musim kemarau. Karena itu yang harus diperkuat adalah mitigasinya. Jangan menunggu sumur mengering atau hutan terbakar baru semua bergerak," kata Said dalam keterangan tertulis, Rabu (21/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau setiap tahun desa yang mengalami kekeringan relatif sama, persoalannya sebenarnya sudah bisa dipetakan. Tangki air sangat dibutuhkan dalam keadaan darurat, tetapi tugas kita adalah memastikan pada tahun-tahun mendatang masyarakat di desa tersebut tidak terus menunggu tangki datang," lanjutnya.

Said mengatakan bahwa karhutla dan kekeringan saling berhubungan.

ADVERTISEMENT

"Kalau hulunya rusak, masyarakat di hilir akhirnya menerima dampaknya. Karena itu menjaga lingkungan harus ditempatkan sebagai bagian dari perlindungan terhadap masyarakat," ujarnya.

Said mengingatkan pesan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri agar kader menjadi Pandu Ibu Pertiwi.

"Pesan Ibu Megawati jelas, kader PDI Perjuangan harus menjadi Pandu Ibu Pertiwi. Artinya ketika alam terluka, kader tidak boleh hanya melihat. Harus hadir, bekerja dan ikut memulihkannya," ujar Said.

Kader PDIP Bergerak dari Bojonegoro hingga Arjuno. Selain itu, Said mengatakan selama beberapa bulan terakhir struktur dan kader PDI Perjuangan telah bergerak di berbagai wilayah Jawa Timur membantu masyarakat menghadapi kekeringan maupun karhutla.

Di Bojonegoro, anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Abidin Fikri bersama jaringan partai telah menyalurkan sekitar 262 ribu liter air bersih ke 52 titik terdampak kekeringan.

Selanjutnya, di Gresik, DPC PDI Perjuangan menyalurkan sekitar 20 ribu liter air bersih kepada masyarakat Randuboto, Sidayu. Distribusi air juga dilakukan di Nganjuk, Tuban, Trenggalek, Tulungagung, Sampang, Banyuwangi, Bangkalan, Bondowoso, Lamongan dan sejumlah daerah lainnya.

Semantara itu, di Lamongan, unsur partai bersama kader di legislatif dan eksekutif bergerak menyalurkan air secara serentak ke enam desa di lima kecamatan. Sementara di sejumlah daerah, laporan kesulitan air diterima dari struktur Ranting dan PAC sebelum diteruskan menjadi aksi bantuan.

"Kekuatan PDI Perjuangan ada pada struktur yang sampai ke desa. Ranting dan PAC harus menjadi mata dan telinga. Kalau sumber air mulai mengering, sawah mulai kekurangan air atau muncul titik api, informasi harus bergerak cepat agar pertolongan juga cepat," kata Said.

Gerakan serupa berlangsung dalam penanganan karhutla. Di Kota Batu, struktur PDI Perjuangan membantu kebutuhan logistik petugas dan relawan yang menangani kebakaran Gunung Butak. Di Magetan, kader dikerahkan membantu penanganan karhutla. Sementara itu, di Ngawi, penanganan kebakaran di kawasan Gunung Lawu dan Gunung Botak antara lain dilakukan melalui pembasahan serta pembuatan sekat bakar.

Terbaru, menghadapi dampak kebakaran Arjuno, Ringgit dan Welirang, PDI Perjuangan Jawa Timur menyiapkan 200 relawan dan 20 tangki air untuk membantu masyarakat terdampak.

Said menegaskan berbagai kegiatan tersebut bukan dimaksudkan untuk mengambil alih tugas pemerintah. Gerakan kader merupakan wujud gotong royong sekaligus kesempatan untuk mengetahui langsung persoalan masyarakat.

"Partai harus hadir ketika rakyat membutuhkan pertolongan. Tetapi dari lapangan kita juga harus belajar. Kalau setiap musim kemarau kita kembali membawa tangki ke desa yang sama, berarti ada persoalan yang belum diselesaikan. Bantuan darurat harus berjalan, solusi permanennya juga harus dikerjakan," katanya.

Jangan Terus Memadamkan Masalah yang Sama

Said juga meminta pemulihan kawasan hutan pasca kebakaran menjadi bagian dari penanganan. Setelah api padam dan kondisi dinyatakan aman, perlu dilakukan evaluasi terhadap kerusakan vegetasi, habitat, sumber mata air dan daerah tangkapan air, kemudian dilanjutkan dengan rehabilitasi berdasarkan kebutuhan ekologis masing-masing kawasan.

"Api padam bukan berarti pekerjaan selesai. Hutan yang terluka harus dipulihkan, sumber air harus dijaga, dan masyarakat yang terdampak harus dipastikan kembali mendapatkan akses air. Menolong manusia dan merawat alam berasal dari tanggung jawab yang sama: menjaga kehidupan," kata Said.

"Ukuran keberhasilan kita bukan berapa banyak tangki yang dikirim atau berapa kali kita memadamkan api. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah semakin sedikit desa yang setiap tahun mengalami krisis air dan semakin kecil kawasan hutan yang terbakar. Itulah mitigasi yang harus kita bangun bersama," pungkas Said.

Tonton juga video "Bukan Karena Temui Jokowi, Ini Alasan Kader PDIP Surabaya Dipecat"

(prf/ega)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini