Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengapresiasi PT Petrokimia Gresik (Persero) yang mengembangkan teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) sebagai bagian upaya mendorong penerapan industri hijau di Indonesia. Teknologi itu memungkinkan karbon dioksida (CO₂) hasil proses industri ditangkap dan dimanfaatkan kembali menjadi produk bernilai ekonomi.
Sarmuji menilai proyek percontohan CCU di Petrokimia Gresik menjadi langkah penting dalam pengembangan industri ramah lingkungan di Tanah Air. Ia berharap pengembangan teknologi tersebut bisa membuka peluang penerapan yang lebih luas pada sektor industri lainnya.
"Ini akan menjadi sejarah bagi Petrokimia Gresik sebagai industri yang menjadi pionir bagi penerapan Carbon Capture and Utilization. Ini akan kita sebarluaskan karena proyek percontohan ini menghasilkan manfaat yang besar," ujar Sarmuji usai meninjau perkembangan proyek percontohan (pilot project) teknologi CCU di Gresik, Jawa Timur, dilansir detikJatim, Sabtu (17/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Petrokimia Gresik, perusahaan solusi agroindustri yang tergabung dalam holding PT Pupuk Indonesia (Persero), berpotensi menjadi pelopor penerapan teknologi CCU di Indonesia. Proyek ini merupakan hasil kolaborasi Kementerian Perindustrian, Pupuk Indonesia, Petrokimia Gresik, dan UWin Resources Regeneration Inc. Proyek itu menjadi bagian dari upaya pengembangan teknologi pengurangan emisi serta membuka peluang peningkatan nilai ekonomi melalui pemanfaatan karbon hasil proses industri.
Sarmuji mengatakan teknologi CCU memungkinkan karbon dioksida dari proses industri ditangkap dan dimanfaatkan kembali menjadi produk bernilai ekonomi, salah satunya soda ash atau natrium karbonat. Dari hasil evaluasi proyek percontohan, teknologi tersebut mencatat efisiensi penangkapan CO₂ sebesar 91,48 hingga 97,79 persen. Sedangkan, pada pengujian kedua Mei 2026 menghasilkan soda ash dengan kadar natrium karbonat (Na₂CO₃) mencapai 99,12 hingga 99,73 persen, yang berdasarkan evaluasi teknis dinyatakan memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) 06-0598-1989.
Ia mengatakan teknologi CCU punya potensi memberikan manfaat ganda bagi industri, yaitu mendukung penurunan emisi karbon serta menghasilkan produk bernilai ekonomi. Potensi itu menjadi peluang bagi industri untuk menjalankan dekarbonisasi tanpa semata-mata memandang penerapan teknologi ramah lingkungan sebagai tambahan biaya. Namun, pengembangan menuju skala industri masih memerlukan evaluasi lebih lanjut.
"Tentu harus kita evaluasi terus-menerus supaya ini bisa berlaku sebagai sebuah skala industri, bukan hanya pilot project. Kita akan punya roadmap ke sana," jelasnya.
Baca selengkapnya di sini.
Simak juga Video 'Kemkomdigi Bidik Investasi Teknologi di Bali Tech Week 2026':
(amw/dhn)









































