Pemprov DKI Catat 40 Ribu Kasus TBC, Target Penemuan 68 Ribu

Pemprov DKI Catat 40 Ribu Kasus TBC, Target Penemuan 68 Ribu

Brigitta Belia Permata Sari - detikNews
Rabu, 14 Okt 2026 17:18 WIB
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ika Ruspitawati
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ika Ruspitawati (Belia/detikcom)
Jakarta -

Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta terus memperkuat upaya penanganan tuberkulosis (TBC) menyusul tingginya angka kasus di Jakarta. Saat ini, lebih dari 40 ribu kasus TBC telah ditemukan dari target penemuan sekitar 68 ribu kasus.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati mengatakan Jakarta termasuk lima provinsi dengan jumlah kasus TBC tertinggi di Indonesia. Pihaknya menjalankan berbagai program untuk mengatasi persoalan tersebut.

"Jakarta memang masuk salah satu lima provinsi dengan kasus TBC yang cukup tinggi dan sudah ada beberapa program yang dilakukan oleh Jakarta, baik itu mengikuti program dari pemerintah pusat maupun ada beberapa kegiatan yang merupakan branding dari Jakarta sendiri," ujar Ani di Balai Kota Jakarta, Rabu (14/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu langkah yang dilakukan ialah mengintegrasikan pelacakan kasus TBC dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Melalui integrasi tersebut, petugas dapat menelusuri kemungkinan adanya kasus TBC ketika masyarakat mengakses layanan pemeriksaan kesehatan.

ADVERTISEMENT

"Untuk TBC, penanganan pertama yang harus dilakukan adalah menemukan kasusnya. Sampai dengan saat ini kami sudah menemukan sekitar 40 ribu lebih kasus TBC di Jakarta dan targetnya adalah kami seharusnya menemukan sekitar 68 ribu kasus TBC," jelasnya.

Dinkes DKI juga berupaya memperkuat pencegahan penularan TBC. Salah satunya melalui pemberian terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) kepada keluarga atau orang yang tinggal serumah dengan pasien TBC.

Ani mengakui capaian pemberian terapi pencegahan tersebut masih perlu ditingkatkan. Karena itu, pihaknya berkoordinasi dengan berbagai unsur kewilayahan untuk mendorong masyarakat yang punya anggota keluarga penderita TBC bersedia mengikuti terapi pencegahan.

"Dinas Kesehatan berkoordinasi dan bekerja sama dengan banyak pihak, termasuk dengan RT, RW, camat, lurah untuk mengajak masyarakat yang ada penderita TBC di rumahnya untuk mau menerima pengobatan TPT atau terapi pencegahan TBC," ungkapnya.

Menurut Ani, penguatan pelacakan kasus yang terintegrasi dengan program CKG dalam beberapa bulan terakhir turut mendorong peningkatan capaian penemuan kasus, investigasi kontak, serta pemberian terapi pencegahan TBC. Pihaknya menargetkan seluruh sasaran program penanganan TBC dari pemerintah pusat dapat tercapai hingga Desember 2026

"Yang mungkin harus dikejar adalah pencegahannya. Pencegahannya itu dilakukan dengan memberikan terapi pencegahan terhadap keluarga atau kontak serumah dari penderita TBC," imbuhnya.

Tonton juga video "Hasil CKG: 550 Napi Nusakambangan Diduga Mengidap TBC"

(bel/amw)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini