Kalimantan Berduka: Api Membara hingga Asap Berbahaya

Kalimantan Berduka: Api Membara hingga Asap Berbahaya

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 14 Okt 2026 08:38 WIB
Foto udara asap membubung dari lahan gambut yang tebakar di Kalimantan Selatan.
Foto: Foto udara asap membubung dari lahan gambut yang tebakar di Kalimantan Selatan.Asap (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
Jakarta -

Kalimantan tengah berduka karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi. Api tetap membara dan asap terus membahayakan kesehatan masyarakat.

Sebagaimana diketahui, karhutla masih terjadi. Salah satu yang terparah terjadi di Taman Nasional (TN) Tanjung Puting, Kalimantan Tengah (Kalteng).

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) merespons sejumlah relawan serta masyarakat yang menyatakan mundur. Kemenhut mengatakan pihaknya masih terus mengintensifkan pemadaman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami memahami beratnya kondisi yang dihadapi tim di lapangan, terutama karena luasnya wilayah terdampak, sulitnya akses menuju titik api, serta karakteristik lahan gambut yang menyebabkan kebakaran sulit dipadamkan," kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi dilansir Antara, Senin (12/10/2026).

Untuk diketahui, relawan dari Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan (YOHK) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) yang bertugas di Kotawaringin Barat menyampaikan keputusan mundur dari kegiatan pemadaman di wilayah Taman Nasional Tanjung Puting.

ADVERTISEMENT

Dalam pernyataan di media sosial, perwakilan dari para relawan tersebut mengaku memutuskan menarik diri karena merasa upaya mereka untuk melakukan pemadaman karhutla tidak didukung secara maksimal. Sementara itu, mereka sudah mengerahkan kemampuan dalam pemadaman.

Ristianto menyampaikan sejak 9 September 2026 pihaknya telah mengajukan pemadaman melalui udara menggunakan water bombing. Operasi water bombing sempat dilakukan pada 20-22 September 2026.

Dia menjelaskan saat itu kebakaran belum sepenuhnya terkendali meski sudah dipadamkan dengan water bombing. Kemudian, pihak TN Tanjung Puting kembali menyampaikan permohonan operasi water bombing pada 2 Oktober 2026 untuk wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan dan surat susulan pada 9 Oktober 2026 untuk penambahan sasaran di wilayah Pos Tanjung Harapan, Resor Pesalat.

Tebalnya kabut asap menjadi kendala pemadaman karena menyebabkan keterbatasan jarak pandang. Kondisi tersebut, katanya, perlu menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan operasi helikopter demi keselamatan penerbangan.

"Koordinasi dengan instansi terkait terus dilakukan agar dukungan pemadaman udara dapat dilaksanakan sesuai kondisi operasional yang memungkinkan," kata Ristianto.

Prabowo Beri Atensi

Presiden Prabowo Subianto pun memberikan atensi terhadap penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Ia menegaskan kawasan Tanjung Puting harus dijaga secara serius karena merupakan taman nasional.

Hal tersebut disampaikan Prabowo saat memimpin rapat perkembangan penanganan karhutla secara hybrid dari Istana Merdeka, Jakarta, Senin (12/10/2026).

"Taman Nasional Tanjung Puting menjadi perhatian karena itu taman nasional," kata Prabowo dikutip Biro Sekretariat Presiden, Selasa (13/10).

Dalam rapat tersebut, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto melaporkan bahwa kebakaran baru ditemukan di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting dengan luas sekitar 513,89 hektare. Penanganan dilakukan melalui penguatan satuan tugas darat, sementara operasi udara masih terkendala rendahnya jarak pandang akibat asap tebal.

Prabowo juga kembali menekankan pentingnya memperkuat keberadaan polisi hutan untuk menjaga kawasan-kawasan hutan di Indonesia. Ia meminta agar penguatan jumlah dan kapasitas personel tersebut dilakukan secara bertahap upaya perlindungan dan pencegahan kebakaran dapat makin efektif.

"Karena itu, tolong sampaikan ke MenPANRB, kalau memang saya minta 70 ribu polisi hutan karena ada maksud untuk menjaga hutan-hutan kita," kata Prabowo.

Prabowo turut meminta Polri membantu penguatan kapasitas polisi hutan. "Kapolri nanti bisa bantu ya didik polisi hutan," lanjutnya.

Dalam rapat yang sama, Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin melaporkan kondisi lapangan di Tanjung Puting. Menurut dia, lokasi kebakaran tersebar, berada di kawasan rawa, dan sulit dijangkau kendaraan.

Salah satu kebutuhan utama di lapangan adalah pompa air berukuran kecil untuk mendukung pemadaman. Ketika Pangdam menyampaikan kebutuhan sekitar 50 pompa air, Prabowo langsung memutuskan untuk memberikan dukungan dalam jumlah lebih besar.

"Berapa kau butuh pompa air? 50? Saya kirim 200," ujarnya.

Selain pompa, Pangdam juga menyampaikan kebutuhan tim pengeboran air karena karakteristik kawasan rawa memungkinkan sumber air diperoleh dengan pengeboran sekitar 10 hingga 15 meter. Prabowo kemudian memberikan dukungan untuk pembuatan 200 titik bor air dengan anggaran Rp 2 miliar.

"Saya kirim Rp 2 miliar, 200 titik," kata Presiden.

Titik Karhutla

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyebut luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi yang masih ditangani saat ini tercatat 639,23 hektare. Karhutla terluas terdapat di provinsi Kalimantan Tengah karena adanya titik baru yakni Taman Nasional Tanjung Puting.

"Untuk provinsi prioritas lahan gambut ada di enam provinsi, Bapak Presiden: Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau. Untuk hari ini, yang terbakar yang masih ditangani oleh satgas di lapangan, jumlahnya adalah 639,23 hektare," kata Suharyanto saat melaporkan perkembangan penanganan karhutla kepada Presiden Prabowo Subianto, dilihat di YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (13/10/2026).

Suharyanto mengatakan lahan terbakar di Tanjung Puting seluas 513,89 hektare. Penanganan terus dilakukan melalui jalur darat.

"Yang terbesar memang terjadi di Kalimantan Tengah. Kenapa paling besar? Karena baru saja ditemukan kebakaran baru di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan. Per hari ini ada 513,89 hektare yang terbakar di sana. Meskipun bukan lahan gambut, lahan mineral, tetapi ini menjadi pekerjaan yang segera harus kami lakukan," ujarnya.

Ia mengatakan Pangdam Kalimantan Tengah sudah memimpin langsung penanganan karhutla di lapangan. Selain itu terdapat penambahan pasukan dan peralatan satgas darat untuk mengatasi karhutla.

Perjuangan Warga Lewati Asap Tebal

Asap tebal menyelimuti Jalan Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kondisi itu membuat jarak pandang hingga membahayakan kendaraan yang melintas.

Pantauan langsung tim detikKalimantan saat berkendara di lokasi, kabut asap pekat menutupi jalan hingga pengendara kesulitan melihat situasi dalam jarak beberapa puluh meter ke depan. Pengendara harus berhati-hati agar tidak terlibat kecelakaan dengan kendaraan lain dari arah berlawanan.

Rata-rata pengendara melaju dengan kecepatan 30-40 km/jam. Pengendara memilih kecepatan sedang karena, jika berkendara pelan, mereka justru sesak napas karena menghirup kabut asap lebih lama.

Pengendara juga menyalakan lampu kendaraan demi bisa menambah jangkauan penglihatan serta bisa dideteksi pengendara lain dari depan dan belakang. Walaupun pengendara menggunakan helm dan masker, kabut asap tetap tembus dan terhirup serta membuat mata perih.

Salah satu pengendara bernama Rian mengatakan asap tebal itu terjadi sekitar pukul 07.25 Wita. Menurutnya, situasi tersebut sangat membahayakan, terlebih jika pengendara tidak fokus saat menyetir.

"Ini asapnya tebal sekali. Sangat mengganggu pernapasan dan jarak pandang sangat terbatas. Ini apabila tidak hati-hati, bisa membahayakan pengendara," kata Rian kepada detikKalimantan, Selasa (13/10/2026).

Warga Banjarbaru lainnya, Firman, juga merasa asap terus menebal dari hari ke hari. Namun anaknya tetap harus masuk sekolah seperti biasa dan tidak ada pembelajaran jarak jauh (PJJ).

"Tentu khawatir dengan kondisi ini, karena anak-anak sekolah normal, padahal asapnya terus menebal. Ini yang kita khawatirkan," sebutnya.

Lihat juga Video 'Perjuangan Warga Kalsel Menembus Asap, Jarak Pandang Terbatas':

Halaman 4 dari 3
(rdp/rdp)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini