Kami Masih Tinggal di Barak

Tiga Tahun Tsunami

Kami Masih Tinggal di Barak

- detikNews
Rabu, 26 Des 2007 07:26 WIB
Banda Aceh - Mulyadi (40) dan isterinya sibuk menyiapkan panganan yang akan disediakan bagi puluhan anak yatim. Mereka membuat sukuran kecil-kecilan anak ketiga mereka. Si bungsu sudah berusia 44 hari.

Meski barak pengungsian yang mereka tempati pascatsunami menyapu Aceh ini terlalu kecil, tak membuat kesibukan persiapan acara itu jadi berkurang.

Begitulah, walaupun sudah tiga tahun bencana tsunami berlalu dan hiruk pikuk pembangunan rehabilitasi dan rekonstruksi lalu lalang di Aceh dengan gelontoran dana bantuan triliunan rupiah, Mulyadi bersama 12 Kepala Keluarga (KK) lainnya sampai saat ini masih tinggal di barak di kawasan Keudah Kecamatan Kuta Raja, Banda Aceh. Lokasi ini hanya berjarak sekitar 1 km dari Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Rumah bantuan kami belum siap," aku Mulyadi sembari menunjuk beberapa unit rumah bantuan bercat kuning yang dibangun di depan barak mereka. Padahal, rumah bantuan itu sudah mulai direalisasikan pembangunannya sejak setahun lalu.

Menurut Mulyadi, tak kelarnya pembangunan rumah bantuan dari Asian Development Bank (ADB) karena banyak pekerja bangunan kabur karena gajinya tak dibayar pihak kontraktor yang konon memberikan pekerjaan itu kepada sub kontraktor lainnya lagi. Kejadian seperti ini menjadi peristiwa jamak hampir di seluruh kawasan pembangunan rumah bantuan di Aceh.

Alhasil, rumah type 36 tanpa dapur yang ditargetkan selesai dibangun dalam tempo 4 bulan itu tak kunjung bisa ditempati. "Tapi mau bagaimana lagi. Dapat rumah saja kami sudah sukur. Jadi, ya kami terimalah nasib ini. Mudah-mudahan tidak lama lagi kami bisa pindah," ungkapnya.

Sebenarnya kata Mulyadi, jauh-jauh hari mereka sudah akan mendapat bantuan rumah dari Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias. Tapi warga Keudah yang tinggal di barak tersebut, menolaknya. Karena mutu rumah bangunan BRR NAD-Nias diragukan, seperti yang mereka lihat dari sejumlah rumah bantuan yang dibangun BRR NAD-Nias.

"Kemudian masuk lagi NGO dari Jerman, sudah ada musyawarah dengan warga soal tipe rumah. Tapi entah kenapa tidak jadi. Barulah setahun yang lalu ADB masuk ke sini," terang pria yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi becak bermotor ini.

Mulyadi dan 12 KK lainnya tak sendirian. Karena sampai saat ini masih ada 4 ribu KK lainnya yang juga tinggal di barak pengungsian lainnya di delapan kabupaten di Aceh."Seharusnya, target selesai pada Juli 2007 tapi ternyata meleset menjadi Desember 2007. Itu setelah data pengungsi yang tinggal di barak jauh lebih besar daripada data BRR. Perbedaan data tersebut membuat kami merevisi target," jelas Juru Bicara BRR NAD-Nias, Mirza Keumala beberapa waktu lalu.
Β 
Berdasarkan data BRR, jumlah KK yang kehilangan rumah kini mencapai 128 ribu. Dari 4.000 KK yang tersisa, mereka tinggal di barak di sekitar 74 titik yang tersebar pada delapan kabupaten di Aceh dan Nias. Tak hanya persoalan data yang berbeda-beda.

Menurut Mirza, pada sebagian barak, ada sejumlah LSM yang menawarkan rumah, tapi terkendala keluarga yang tidak memiliki tanah karena dulunya mereka adalah penyewa.

Soal lainnya, ada kontraktor yang tidak menyelesaikan pembangunan rumah ditambah lagi adanya kondisi rumah tidak layak huni sehingga tidak ditempati. Menurut catatan BRR NAD-Nias, ada sekitar enam persen kontraktor yang meninggalkan proyek pembangunan rumah korban tsunami di Aceh setelah menarik uang muka.

Sayangnya, untuk urusan ini, BRR NAD-Nias hanya mengatakan bahwa para kontraktor itu merupakan pihak yang tidak bertanggungjawab.

Sementara itu, untuk rumah yang terbengkalai karena ditinggalkan kontraktor, BRR NAD-Nias berjanji akan memperbaiki. "Jadi,persoalan ini harus dipahami bahwa banyak sekali persoalan. Belum lagi masalah pembebasan tanah dan munculnya agen tanah. Karena itu, kami harus bekerja dua kali," jelas Mirza.

Sampai 31Oktober 2007, sekitar 102.063 unit rumah telah dibangun BRR NAD-Nias dan sejumlah NGO. Sekitar 130 unit rumah dibangun ADB di Keudah.
Β 
Meski demikian, BRR NAD-Nias mengaku bahwa proses rekonstruksi rumah korban bencana alam tercepat di dunia jika dibandingkan dengan penanganan rumah korban gempa di Bam (Iran), Gujarat (India), maupun di Turki.

"Di Bam dalam waktu tiga tahun hanya bisa menyelesaikan 25.000 rumah. Di Gujarat memperbaiki satu jendela atau kusen dihitung satu rumah, sementara di sini kami benar-benar membangun rumah baru. "100 ribu dibangun dalam 30 bulan, belum ada yang menandinginya. Ini adalah prestasi tersendiri," tukas Ketua Badan Pelaksana BRR NAD-Nias, Kuntoro Mangkusubroto beberapa waktu lalu saat menyerahkan rumah ke-100 ribu.

Terlepas dari prestasi yang disebut Kuntoro, Mulyadi dan 4 ribu KK lainnya yang masih mendiami sejumlah barak terus menanti untuk segera pindah. Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk bertahan di sebuah barak yang hanya berukuran 4x3 meter persegi.

Apalagi, dari jumlah ratusan ribu rumah itu, BRR NAD-Nias -yang nota bene sebagai badan yang dibentuk pemerintah untuk mengurusi rehabilitasi dan rekonstruksi NAD-Nias- baru hanya membangun sekitar 14 ribu rumah.Β 
(ray/ary)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads