Yusuf adalah jamaah asal Talapiti, Amabalawi, Bima, NTB. Dia berangkat pada kloter 44 embakarasi Surabaya. Pada Jumat sore pekan lalu bersama teman-teman serombongannya dia berjalan dari Mina menuju tugu jamarat untuk melempar jumrah.
Semua wajib dan rukun haji, termasuk thawaf ifadhah, telah dilaksanakan Yusuf dan teman-temannya. Dari jamarat itulah mereka hendak menuju Makkah, mengakhiri mabit dengan cara nafar awal.
Pada saat-saat itu, di pinggir jalan tak jauh dari jamarat memang berjejer bus-bus angkutan jamaah. Tanpa berpikir panjang, Yusuf langsung naik ke salah satu dari bus tersebut. Tujuannya hanya ingin menumpang sampai Makkah yang memang cukup melelahkan bagi orang yang telah berumur jika berjalan kaki.
Rupanya bus itu mengangkut jamaah meninggalkan Makkah menuju Madinah. Karena terjebak macet, bus baru tiba di Madinah Sabtu dinihari. Sesampai di Madinah Yusuf diturunkan di dekat kompleks Masjid Nabawi.
Setelah melakukan sholat, Yusuf melapor ke polisi yang berjaga di sekitar masjid, lalu diantar ke kantor PPIH Daker Madinah. "Sesampai di kantor ini saya baru bisa makan. Karena saat itu sejak sore hingga pagi belum makan sehingga perut saya sakit," ujar Yusuf saat ditemui pada Selasa (25/12/2007).
Lelaki yang sudah menduda dan sehari-harinya bekerja sebagai petani kebun itu tidak bisa menjelaskan jamaah mana yang diangkut dalam bus yang ditumpanginya itu. Yang dia tahu para penumpangnya tidak bisa berbahasa Indonesia dan wajahnya tidak mirip orang Indonesia.
"Saat itu saya kira bus angkutan penumpang menuju kota Makkah saja, tidak mengira kalau akan membawa saya kemari," ujarnya sembari mengatakan barang dan bekalnya masih tertinggal di Mina dan pemondokan.
Petugas di Daker Madinah tidak akan mengembalikan Yusuf ke Makkah, karena dia termasuk jamaah gelombang dua yang nantinya juga akan dipindahkan ke Madinah sebelum pulang ke tanah air. Sambil menunggu rombongannya datang, Yusuf akan tetap tinggal dan menginap di kantor Daker Madinah.
(mbr/fay)











































