Meski kini bangunannya telah menjadi ikon gereja Indonesia, ternyata pada akhir abad ke-19, jemaat Gereja Katedral ini pernah melakukan misa di garasi kereta kuda.
"Tanggal 9 April 1890, gereja mengalamai kerusakan berat, atap gereja hancur, 58 bangku jati untuk ummat hanya 10 yang masih digunakan dan akhirnya gereja ambruk.
Akibatnya, pelaksanaan missa pun diselenggarakan di garasi kereta kuda ," kata Kardinal Julius Darmaatmadja kepada wartawan di Gerja Katedral, Selasa (25/12/2007).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pekerjaan pun terhenti dan misa di teruskan di garasi pastoran," tambah Julius.
Delapan tahun kemudian, pembangunan kembali dijalankan pada 16 Januari 1899 dengan biaya swadaya masyarakat. "Jadi tidak benar jika gereja ini semata-mata hadiah Pemerintah Belanda," tuturnya.
Setelah mengalami halangan dan rintangan, akhirnya gereja rampung setelah dibangun selama tiga tahun. Gereja lantas diresmikan Mgr Edmundus Sybrandus Luypen pada 21 April 1901.
Pada Natal 2007 ini, ribuan umat Kristiani melangsungkan misa Natal dalam kemegahan gereja yang bergaya neogotik tersebut. "Dan layak disebut Katedral karena didalamnya terdapat Cathedra yakni Takhta Uskup," pungkas Julius. (asp/nvt)











































