Mentrans Bertemu Pengusaha China, Bahas Pengembangan Kawasan Transmigrasi RI

Laporan dari Beijing

Mentrans Bertemu Pengusaha China, Bahas Pengembangan Kawasan Transmigrasi RI

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Senin, 12 Okt 2026 16:29 WIB
Mentras Iftitah bertemu dengan pengusaha China. (Lisye/detikcom)
Mentras Iftitah bertemu dengan pengusaha China. (Lisye/detikcom)
Beijing -

Menteri Transmigrasi (Mentrans) Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara bertemu dengan perwakilan sejumlah perusahaan bidang teknologi dan pengolahan pertanian di Beijing, China. Pertemuan tersebut membahas pengembangan kawasan transmigrasi di Indonesia.

Pertemuan itu berlangsung di Peking University, Beijing, China, Senin (12/10/2026). Hadir dalam pertemuan ini perwakilan dari China National Township Enterprises Co (CNTEC), perusahaan BUMN China yang bergerak di bidang perdagangan internasional, terutama impor dan distribusi produk pertanian serta berbagai komoditas lainnya.

Hadir pula perwakilan FAMSUN, perusahaan teknologi China yang bergerak di bidang peralatan pengolahan pakan ternak dan pertanian. Selanjutnya, ada perwakilan DJI Agriculture, perusahaan pengembang teknologi drone pertanian untuk penyemprotan pestisida dan pemupukan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, hadir pihak Beijing Leili Marine Bioindustry, perusahaan inovasi bioteknologi kelautan yang memproduksi nutrisi tanaman dan produk peningkat kesehatan tanah berbasis ekstrak rumput laut.

ADVERTISEMENT
Mentras Iftitah bertemu pengusaha China (Lisye/detikcom)Mentras Iftitah bertemu dengan pengusaha China. (Lisye/detikcom)

Menteri Iftitah awalnya mendengarkan pemaparan dari masing-masing perusahaan. Iftitah menyampaikan transmigrasi tidak hanya sebatas pemindahan penduduk, tetapi juga bertujuan menciptakan kawasan ekonomi baru.

"Transmigrasi tidak hanya pemindahan penduduk, tetapi juga menciptakan kawasan ekonomi di Indonesia untuk mengentaskan kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja baru," kata Iftitah.

Menteri Iftitah menjelaskan Indonesia memiliki potensi lahan dan tenaga kerja yang memadai. Namun, menurut dia, Indonesia masih membutuhkan dukungan penelitian di bidang sains dan teknologi.

"Pada dasarnya kita punya kawasan dan tenaga kerja, tetapi kita membutuhkan penelitian di bidang sains dan teknologi. Kita membutuhkan lebih banyak modal dan investasi dan juga kita membutuhkan off-taker. Jadi kita tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperluas pasar," ucapnya.

Iftitah membuka peluang kerja sama antara pemerintah Indonesia dengan perusahaan maupun pemerintah China dalam pengembangan kawasan transmigrasi di RI.

"Oleh karena itu, kita perlu memadukan kekuatan dan tantangan yang kita hadapi ke depannya. Mungkin kita bisa mengadakan diskusi antara Kementerian Transmigrasi dengan pihak pemerintah (China) untuk mendorong kemajuan ini," ujarnya.

Lihat juga Video: Mentrans Kirim 2.000 Peneliti Kembangkan Kawasan Transmigrasi

Halaman 2 dari 2
(lir/haf)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini