Tak semua urusan koperasi di Desa Wonokerto, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, harus dilakukan dengan cara konvensional. Di tengah aktivitas jual beli warga, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Wonokerto mulai menggunakan sejumlah layanan digital, dari pembayaran melalui QRIS hingga aplikasi simpan pinjam.
Untuk mendukung pengelolaan koperasi, Nur juga mengembangkan aplikasi KARSA, yang merupakan singkatan dari Koperasi Desa. Aplikasi tersebut dibuat untuk memudahkan anggota memantau simpanan pokok, simpanan wajib, hingga saldo koperasi tanpa harus datang langsung ke kantor.
Ketua KDMP Wonokerto M Yusril Suhendra mengatakan digitalisasi menjadi bagian dari upaya koperasi memperbaiki pelayanan sekaligus menyesuaikan diri dengan kebutuhan anggota.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Digitalisasi di koperasi ini kita akan pengembangan di aplikasi seperti mobile banking," kata Yusril kepada detikcom belum lama ini.
Menurut dia, aplikasi tersebut sudah tersedia dalam tahap pengembangan dan sedang dikaji ulang sebelum nantinya diunggah ke Play Store. Setiap anggota akan memiliki ID untuk masuk ke dalam aplikasi.
Melalui aplikasi itu, anggota nantinya dapat mengetahui jumlah simpanan wajib, simpanan pokok, serta saldo yang telah ditabungkan di koperasi. Informasi dan berita dari website koperasi juga direncanakan dapat terhubung ke aplikasi tersebut.
"Jadi nantinya sudah masuk di aplikasi itu. Dan juga tagihan setiap bulannya, tagihan simpanan wajibnya itu setiap bulan pasti akan muncul," ujarnya.
Namun, Yusril menegaskan fitur pembayaran melalui aplikasi masih dalam tahap pengembangan. Saat ini, aplikasi lebih difokuskan untuk membantu anggota mengetahui saldo dan catatan simpanannya.
"Kalau untuk pembayaran tagihan nantinya masih pengembangan. Saat ini hanya untuk mengetahui saldo saja," katanya.
Aplikasi itu dikembangkan oleh Sekretaris KDMP Wonokerto Nur Muhammad. Nur mengatakan ide awalnya muncul dari persoalan sederhana, yakni anggota harus datang ke kantor koperasi hanya untuk membayar simpanan wajib.
Ide awalnya sederhana: memangkas kerepotan warga yang harus datang langsung ke kantor koperasi hanya untuk membayar simpanan wajib bulanan. Lewat KARSA, anggota cukup memindai kode QR atau memasukkan kode transaksi tunai dari rumah, asal saldo mencukupi.
Meski begitu, sistemnya tak lantas longgar. Setiap transaksi yang diinput anggota tidak otomatis bertambah ke saldo, melainkan harus melalui verifikasi admin lebih dulu lewat portal web dashboard. Langkah pengamanan dinilai penting mengingat data ini nantinya jadi dasar rekapitulasi tahunan saat Rapat Anggota Tahunan (RAT).
"Setelah ngasih nominal simpanannya, itu nunggu verifikasi dari admin, enggak asal langsung klik. Takutnya ada yang menyalahgunakan," ujar Nur.
Proses pembuatannya sendiri hanya memakan waktu sekitar dua bulan. Nur mengaku terbantu perangkat seperti VS Code dan Android Studio, serta AI seperti ChatGPT dan Copilot AI untuk mempercepat proses coding. Saat ini, sekitar 63 anggota koperasi sudah terdaftar di aplikasi tersebut.
Dashboard aplikasi KARSA (Foto: Dok. Akfa Nasrulhak/detikcom) |
Namun, penerapannya tetap menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah kemampuan sebagian anggota, terutama mereka yang belum terbiasa menggunakan aplikasi digital.
"Kalau orang-orang tua sih pasti ya, kalau lihat digital atau teknologi baru itu pasti pusing. Tapi kan kita harus mengikuti zaman juga," kata Nur.
Ke depan, ia berharap KARSA bisa berkembang menyerupai mobile banking lokal desa yang terintegrasi dengan transaksi minimarket koperasi hingga portal informasi desa.
QRIS, Layanan PPOB, dan Akses Bansos
Selain aplikasi anggota, KDMP Wonokerto juga mulai menggunakan sejumlah layanan digital untuk mendukung pelayanan kepada masyarakat. Salah satunya pembayaran melalui QRIS yang digunakan dalam transaksi di minimarket dan gerai sarana produksi pertanian atau Saprodi.
Pengurus koperasi bekerja sama dengan sejumlah bank, seperti BNI, BRI, dan Mandiri. Adapun QRIS yang paling sering digunakan dalam transaksi koperasi berasal dari BRI.
Layanan digital koperasi juga mencakup Payment Point Online Bank (PPOB) serta membantu masyarakat mengakses layanan bantuan sosial, seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).
"Mandiri fokus di PPOB-nya dan bansos, PKH, BPNT, bisa juga melalui Koperasi Desa Wonokerto. Jadi memudahkan masyarakat untuk bisa mengakses bantuan di situ," kata Yusril.
Dengan layanan tersebut, koperasi tidak hanya menjadi tempat berbelanja atau menyimpan simpanan anggota, tetapi juga menjadi salah satu titik pelayanan bagi kebutuhan administrasi pembayaran dan akses bantuan sosial masyarakat desa.
Konsumen melakukan pembayaran dengan QRIS di minimarket KDMP Wonokerto (Foto: Dok. Akfa Nasrulhak/detikcom) |
Pengelolaan minimarket KDMP Wonokerto juga mulai menggunakan sistem ritel modern. Sistem kasir E-POS 5 digunakan untuk memantau pergerakan stok secara real-time, sehingga pengurus dapat mengetahui ketersediaan barang dan aktivitas penjualan.
Pengawasan stok dilakukan melalui stok opname total setiap enam bulan. Pada saat proses tersebut, minimarket ditutup selama satu hari agar seluruh karyawan dapat menghitung stok fisik dan mencocokkannya dengan data sistem.
Untuk barang yang cepat terjual atau memiliki nilai tinggi, seperti rokok dan produk kemasan kecil, pengecekan dilakukan lebih rutin, yakni sebulan sekali. Jika ada barang yang dicari konsumen tetapi stoknya kosong, kasir mencatat kebutuhan tersebut untuk ditindaklanjuti melalui pemesanan ulang. Catatan itu juga telah terhubung dengan layanan pengaduan melalui WhatsApp.
Sistem modern tidak hanya digunakan untuk mengelola stok. Penataan barang di dalam minimarket juga disesuaikan dengan nilai dan tingkat risikonya. Produk bernilai tinggi ditempatkan di sekitar kasir agar lebih mudah dipantau, sedangkan barang besar dan berat, seperti semen serta air mineral, diletakkan di area terbuka.
Dari sisi penjualan, omzet minimarket disebut berada di kisaran Rp 5 juta-Rp 7 juta per hari. Ketika ada promosi barang bersubsidi, seperti Minyakita, omzet harian bahkan dapat menembus lebih dari Rp 10 juta.
Angka tersebut menjadi salah satu alasan pengurus membantah anggapan bahwa aktivitas koperasi desa hanya menghasilkan omzet kecil. Secara kumulatif, omzet dua unit usaha KDMP Wonokerto, yakni gerai sembako dan sarana produksi pertanian, berada di kisaran Rp 200 juta hingga Rp 260 juta per bulan.
Keuntungan Anggota Koperasi: Poin Belanja hingga Berpeluang Dapat Hadiah
Digitalisasi juga diterapkan dalam sistem keanggotaan. KDMP Wonokerto menggunakan kartu anggota yang dilengkapi barcode. Setiap kali anggota berbelanja di minimarket koperasi, kartu tersebut dapat dipindai oleh kasir. Transaksi kemudian tercatat dalam database dan terakumulasi menjadi poin selama satu tahun.
Konsumen berbelanja menggunakan kartu member koperasi (Foto: Dok. Akfa Nasrulhak/detikcom) |
Poin tersebut direncanakan dapat ditukarkan dengan hadiah menjelang akhir tahun atau Lebaran. Selain itu, anggota juga berhak memperoleh sisa hasil usaha (SHU) melalui rapat anggota tahunan atau RAT.
"Di dalam sistem anggota itu kita buat skema (semacam) kartu member. Kalau tempat kita di sini kartu anggota," kata Yusril.
Menurutnya, sistem poin tersebut menjadi salah satu keuntungan yang ditawarkan kepada anggota. Selain memperoleh harga belanja yang lebih murah, anggota juga memiliki kesempatan mendapatkan hadiah berdasarkan aktivitas belanja selama satu tahun.
"Setiap kali pembelian di koperasi di-scan, dia akan masuk ke dalam database. Di situ nanti akan terakumulasi berapa poin dalam kurun waktu satu tahun," ujarnya.
Yusril menambahkan, jumlah anggota KDMP Wonokerto saat ini mencapai sekitar 65 orang. Jumlah itu meningkat dari 26 anggota ketika koperasi pertama kali dibentuk pada 21 April 2025.
Pemanfaatan Media Sosial untuk Promosikan Koperasi Desa
Pemanfaatan teknologi juga dilakukan melalui media sosial. KDMP Wonokerto menggunakan Instagram, TikTok, dan WhatsApp untuk mempromosikan produk koperasi, barang titipan pelaku UMKM, sekaligus memperkenalkan aktivitas koperasi kepada masyarakat.
Nur Muhammad mengatakan TikTok menjadi salah satu platform yang paling ramai digunakan untuk mempromosikan koperasi. Konten yang dibuat tidak selalu membahas produk yang dijual, tetapi juga mengikuti tren yang sedang ramai di masyarakat.
Melalui konten tersebut, koperasi tidak hanya memperkenalkan asinan mangga, es mambo, telur asin, makanan ringan kemasan ulang, kunyit asam dan produk UMKM lainnya. Nama KDMP Wonokerto juga ikut diperkenalkan sebagai tempat belanja, pusat kegiatan ekonomi warga, serta ruang pemasaran produk lokal.
Nur mengatakan, beberapa konten koperasi bahkan berhasil masuk FYP TikTok. Salah satu konten disebut telah ditonton sekitar 300 ribu kali.
"Kadang kita bikin konten bukan hanya untuk mempromosikan produknya, tapi juga koperasinya. Jadi masyarakat tahu kalau di Wonokerto ada koperasi desa," ujarnya.
Menurut dia, media sosial juga menjadi sarana untuk menyampaikan informasi mengenai kegiatan koperasi, produk yang tersedia, promosi, hingga aktivitas anggota. Dengan begitu, komunikasi koperasi tidak hanya berlangsung ketika warga datang langsung ke gerai.
Dengan pola tersebut, media sosial tidak hanya berfungsi sebagai saluran promosi produk, tetapi juga sebagai cara memperkenalkan identitas dan aktivitas KDMP Wonokerto. Koperasi berupaya membangun hubungan dengan masyarakat melalui konten yang lebih ringan, mengikuti tren, dan menunjukkan kegiatan sehari-hari di gerai.
(akn/akd)













































