Walkot Jakbar Luncurkan Buku Satu Data, Gagas Pemanfaatan AI Sinkronkan DTKS

Walkot Jakbar Luncurkan Buku Satu Data, Gagas Pemanfaatan AI Sinkronkan DTKS

Rumondang Naibaho - detikNews
Senin, 12 Okt 2026 14:16 WIB
Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah merilis buku berjudul Satu Data, Satu Tujuan, AI sebagai Solusi Kemiskinan Jakarta (Rumondang/detik)
Foto: Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah merilis buku berjudul 'Satu Data, Satu Tujuan, AI sebagai Solusi Kemiskinan Jakarta' (Rumondang/detik)
Jakarta -

Wali Kota Jakarta BaratIin Mutmainnah merilis buku berjudul 'Satu Data, Satu Tujuan, AI sebagai Solusi Kemiskinan Jakarta'. Melalui buku tersebut, Iin menggagas pentingnya pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mengatasi perbaikan data bantuan sosial (bansos) agar intervensi kemiskinan di Jakarta lebih tepat sasaran.

Hal itu disampaikan Iin saat menggelar diskusi dan bedah buku di Ruang Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Senin (12/10/2026). Dia menyebut penulisan buku ini berangkat dari pengalamannya sebagai birokrat di lapangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Iin, Jakarta selama ini dihadapkan pada paradoks nyata antara kemegahan pembangunan fisik dan kantong-kantong kemiskinan yang masih ada di baliknya.

"Bahwa Jakarta dihadapi dengan paradoks yang menjadikan sebuah di mana bisa saja Jakarta dilihat dari gedung yang megah, pertumbuhan yang begitu cepat, tingginya proses dalam pembangunan dan semua aspek yang dibutuhkan oleh masyarakat," kata Iin dalam paparannya.

ADVERTISEMENT

"Tetapi di belakang gedung megah itu bisa saja ada satu hal yang kita melihat masih dibutuhkan intervensi yang sangat tinggi terkait dengan bagaimana Jakarta dalam wajah yang berbeda, di mana masyarakatnya masih membutuhkan intervensi yang sangat kuat untuk melihat bahwa Jakarta ini masih banyak tingkat kemiskinannya," lanjutnya.

Iin menyoroti salah satu masalah data yang kerap terjadi adalah terkait distribusi program kesejahteraan sosial. Dimana masih adanya kesalahan dalam pendataan warga yang seharusnya berhak menerima bantuan dan tidak.

"Terjadi sebuah data secara umum kalau kita bicara data ada exclusion error dan inclusion error. Di mana bisa saja data yang seharusnya dia dapat tetapi sebetulnya tidak dapat ternyata di lapangan. Ada juga yang data harusnya tidak dapat ternyata dapat," paparanya.

Masalah tersebut, kata Iin kerap membuat warga yang benar-benar miskin tidak tersentuh bantuan. Sementara warga yang ekonominya lebih mampu justru terdaftar sebagai penerima.

Iin kemudian mencontohkan keadaan nyata kemiskinan padat penduduk di kawasan Tambora, Jakarta Barat yang satu rumah semipermanen dihuni oleh tiga kepala keluarga hingga lebih dari 10 jiwa.

Di sisi lain, dia juga kerap mendapati warga yang memohon agar status desil ekonominya diturunkan secara sengaja demi mendapatkan jatah bansos.

Tak hanya itu, mantan Wakil Wali Kota Jakarta Timur ini mengungkap adanya ego sektoral antardinas serta ketidaksinkronan program pelatihan kerja dengan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

"Lalu di mana posisinya? Karena selama ini kita bekerja, sama-sama bekerja, tapi sering kali menyimpan data itu menjadi data sendiri. Sering kali bekerja itu untuk sendiri. Tidak bekerja untuk dibuka atau diketahui orang secara langsung. Perlu surat permohonan, perlu pintu, perlu kenal dulu. Kalau nggak kenal sulit. Enggak dapat informasi," ungkapnya.

Untuk mengatasi permasalahan ego sektoral tersebut, Iin menilai teknologi AI dapat difungsikan sebagai alat yang menjembatani kolaborasi pentahelix antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, hingga masyarakat sipil.

Dia menekankan bahwa AI bukan aktor pengambil kebijakan, melainkan instrumen pendukung agar pengolahan dan verifikasi data kemiskinan dapat berjalan cepat, transparan, dan akurat.

"Kenapa AI bisa masuk untuk menjadi sebuah teman kita? Karena AI itu bisa menjadi kecepatan dan ketepatan dalam kita berkolaborasi supaya bisa trust. Intinya itu," tutur Iin.

Karena itu dia berharap gagasan yang tertuang dalam bukunya tidak sekadar berhenti di atas meja diskusi saja. Melainkan dapat diuji dan diimplementasikan secara bertahap bersama seluruh pihak demi menuntaskan persoalan kemiskinan di Jakarta.

"Cara yang paling tepat hari ini dengan teknologi, tapi teknologi yang bijak. Dan kemudian memberikan trust itu perlu bukti, perlu evidence. AI sebagai enabler bisa memberikan evidence yang tepat," pungkasnya.

Kegiatan peluncuran buku itu diikuti oleh para jajaran Camat dan Lurah di Jakarta. Tak hanya itu, ada mahasiswa hingga masyarakat yang turut hadir dalam kegiatan itu.



(ond/dek)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini