"Kalau air pasang, fenomena alam itu sendiri. Mungkin juga kalau kita kaitkan dengan global warming. Kalau bumi semakin panas, tentu es di kutub meleleh, ketinggian air laut bertambah," cetus pakar Hidrogeologi dari Masyarakat Air Indonesia, Fatchy Muhammad, dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (24/12/2007).
Bicara astronomi, Fatchy melihat gaya tarik bulan kuat sekali sehingga membuat air laut meluber ke daratan. "Ini bukan hidrologi sebetulnya. Ini bicara astronomi," kata Fatchy.
Dengan situasi astronomi seperti itu, tambah Fatchy, keadaan Muara Baru bertambah parah dengan hujan yang terus-menerus melanda Jakarta. Seperti diketahui, air hujan yang jatuh di Jakarta sebagian besar digelontorkan begitu saja ke laut dan sungai.
"Air laut bertambah, air dalam tanah berkurang, hujan tak ditampung atau diserapkan dalam tanah," kata Fatchy.
Akibat minimnya penyerapan air ke dalam tanah, air terus saja mengalir ke utara menuju laut. "Karena Muara Baru berada di utara, di dekat laut, kejadian banjir ini jadinya akan terus berulang," imbuh Fatchy.
Terus, apakah tak ada solusi? Fatchy menyebutkan, ada solusi jangka pendek dan solusi jangka panjang. "Jangka pendek, cara Belanda. Bikin dam, pompa-pompa, walau itu tak akan menjamin," jelas Fatchy.
Sementara solusi jangka panjang, selain menjalani program meredam climate change, juga pemerintah mulai memperhatikan tata air Jakarta. "Bagaimana caranya supaya air sebanyak mungkin diresapkan ke dalam tanah," pungkas Fatchy. (aba/aba)











































