Jasa Kursi Roda di Mina

Catatan Haji

Jasa Kursi Roda di Mina

- detikNews
Senin, 24 Des 2007 05:16 WIB
Mina - Banyak cara mengais rezeki, apalagi di Arab Saudi pada musim haji ketika jutaan orang datang untuk beribadah. Banyak jamaah lanjut usia atau lemah karena sakit membutuhkan bantuan untuk sampai ke tempat pelontaran jumrah yang cukup jauh saat mabit (menginap) di Mina. Jasa ojek kursi roda pun laris manis.
 
Ahmad Hasan Ali, adalah salah satu dari puluhan orang yang menawarkan jasa ojek kursi roda di area Padang Mina. Selama jamaah mabit di Mina, dia sering mangkal sembari duduk-duduk di kursi rodanya di pinggir jalan depan tenda balai pengobatan jamaah Indonesia, tak jauh dari mulut terowongan Mina.
 
Senyum selalu menghiasi wajah pemuda berdarah campuran Arab dan Sudan yang periang tersebut. Meskipun tubuhnya tidak seberapa berisi, namun memperlihatkan bahwa postur jangkungnya itu cukup kuat, apalagi umurnya baru 23 tahun.
 
Selain menguasai bahasa Arab, dia juga cukup banyak menguasai kosakata bahasa Inggris dibanding kebanyakan warga Arab lainnya. Setiap ada jamaah yang ingin menggunakan jasanya, Ahmad akan langsung menyebut harga tertentu sebagai jasa pengantaran. Tentu saja bisa ditawar, seperti transaksi lain di Saudi pada umumnya.
 
Jika jamaahnya yang menawar tidak menguasai bahasa Arab maupun Inggris, Ahmad akan menggunakan kode-kode maupun bahasa tubuh, seperti isyarat jari, geleng ataupun anggukan.
 
Untuk setiap pengantaran jamaah dari Mina ke jamarat yang berjarak sekitar tiga hingga lima kilometer dengan kondisi jalan turun naik, Ahmad memasang tarif 200 hingga 300 Real Arab Saudi untuk sekali jalan dari Mina hingga sampai ke Mina lagi.
 
"Selama tiga hari ini saya sudah mendapatkan uang sekitar 2.500 Real. Rata-rata teman-teman juga mendapat sebanyak itu. Hingga selesai musim haji, pendapatan kami masing-masing rata-rata tiap tahunnya sekitar 2.000 hingga 3.000 Real," paparnya saat ngobrol santai dengan detikcom.
 
Meskipun sudah berusia 23 tahun, namun Ahmad masih duduk di bangku sekolah menengah atas di Kota Makkah. Ahmad sudah lima tahun terakhir menggeluti usaha musiman yang cukup menghasilkan uang tersebut. Sedangkan uang yang dikumpulkan itu, menurutnya, juga untuk menambah uang saku dan memenuhi kebutuhan lainnya.
 
Rupanya para pemuda pengojek kursi roda ini juga punya cara tersendiri untuk mengatur diri. Mereka sepakat untuk menyebar di berbagai tempat di Padang Mina yang luas. Tempat mangkal masing-masing berjauhan sehingga tidak berebut 'penumpang'. Harga sewa dan pengantara juga telah disepakati, paling rendah menerima tawaran jamaah adalah 200 Real.
 
Ahmad dan kawan-kawannya juga sepakat dalam teknis penyewaan kursi rodanya. Mereka menolak memberikan jika hanya disewa kursi rodanya saja. Alasannya selain akan kesulitan mencari kembali karena banyaknya jamaah, juga tidak ada jaminan kursi rodanya akan segera kembali sehingga merugikannya.
 
"Harus kami sendiri yang mendorong pergi maupun pulangnya. Kami mendorongnya dengan cepat agar tidak terlalu lelah dan cepat selesai sehingga bisa segera disewakan lagi jika ada yang menawar. Kalau mendorongnya pelan-pelan justru tenaga habis di perjalanan," kata Ahmad memberikan alasan.
 
Siapa jamaah yang paling banyak menggunakan jasanya? Ahmad menuturkan paling banyak pengguna kursi rodanya adalah jamaah dari negara-negara Arab, bangsa Arab Afrika serta Asia Selatan. Meskipun sering terlibat tawar-menawar yang cukup alot, kata Ahmad, jamaah Arab Afrika sering memberikan harga lebih tinggi dibanding lainnya.
 
Bagaimana dengan jamaah Indonesia ? Ahmad memilih tersenyum terlebih dahulu, baru setelah agak lama dia memberikan jawaban yang agak kurang sesuai dengan pernyataan.
 
"Saya dengar negara Anda sangat indah. Gunung-gunungnya subur, tidak seperti di Arab. Setiap musim haji jamaah dari negara Anda sangat banyak yang datang dan penuh warna. Pakaiannya banyak warna berbeda-beda, kulitnya juga. Indonesia colorfull," ujarnya sembari tertawa.
 
Baru setelah diajukan lagi pertanyaan yang sama, dia mengatakan meskipun jumlahnya sangat banyak, namun jarang jamaah Indonesia menggunakan jasa kursi roda. "Mungkin uang yang dibawa tidak banyak, tapi saya lihat mereka membeli banyak barang-barang di sini," komentar dia lugu.
 
Ketika diberitahu bahwa 1 real setara dengan 2.500 harga mata uang Indonesia , Ahmad terhenyak dan merespons dengan nada tinggi. "Rendah sekali harga uang Anda. Anda tahu, 1 real Saudi hanya seharga 3 junaih Sudan . Mengapa uang Anda bisa sangat rendah seperti itu," ujar Ahmad sangat serius. (mbr/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads