Goreng-goreng, Nasi Goreng Politik pun Jadi

Goreng-goreng, Nasi Goreng Politik pun Jadi

- detikNews
Minggu, 23 Des 2007 11:30 WIB
Jakarta - Lomba nasi goreng sudah lumrah diadakan. Tapi, apa jadinya jika lomba nasi goreng diadakan oleh partai politik? Lomba pun menjadi pelengkap dan selebihnya adalah nasi goreng politik.

Hal ini bisa dilihat dalam Kontes Memasak Nasi Goreng Bapak Rumah Tangga di Kantor Kecamatan Pondok Gede Bekasi yang di selenggarakan oleh Srikandi Demokrasi Indonesia (SDI), Minggu (23/12/2007).

Memasak nasi goreng yang menggunakan kompor minyak tanahpun jadi peletup aksi politik. Tampak pula sebuah spanduk besar di belakang kompor-kompor lomba bertuliskan Tolak Liberalisasi Energi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pandangan SDI, konversi kompor minyak tanah ke kompor gas merupakan kebijakan yang tidak populis. "Seperti terlihat dalam masyarakat, masih banyak yang menggunakan kompor minyak tanah untuk memasak nasi goreng, " kata Wakil Sekjend SDI Pusat, Nuraini kepada detikcom di tempat lomba.

Lalu apa kata peserta?Lihat saja Bowo, 31 warga gang Nur Saadah, Pondok Gede yang sehari-hari bekerja sebagai sopir angkot.

Menurutnya, lomba memasak nasi goreng ini merupakan simbol perlawanan terhadap konversi minyak tanah. Sejak konversi, minyak tanah susah didapat dan berakibat meningkatnya kebutuhan sehari-hari. "Padahal negara kita kan kaya," ujarnya lugu.

Terkait lomba, dia tidak takut kalah karena saingannya sangat hebat yaitu pedagang-pedagang nasi goreng. Tapi dirinya yakin karena hobi memasak nasi goreng. "Malah temen- temen saya sesama sopir angkot dan mikrolet ikut semua," tuturnya.

Lalu, 50 orang lebih pun tumpah ruah memasak dengan kepulan minyak tanah yang semakin langka. Soal rasa? Tentunya beraneka...

(asp/mar)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini