Rutan Kelas IIB Sumenep kedatangan rombongan dari TK Almanah Campor Barat. Kedatangan bocah-bocah tersebut ke rutan dalam rangka belajar membatik. Lantas, apa hubungannya rutan dengan kelas membatik?
"Rutan Kelas IIB Sumenep berharap rutan tidak lagi dipandang sebagai tempat yang menyeramkan, tetapi juga sebagai sarana edukasi yang menyenangkan bagi masyarakat, melalui berbagai kegiatan positif dan produktif warga binaan," jelas Kepala Rutan Kelas IIB Sumenep, Aditya Wahyu Rahmadani, kepada detikcom pada Sabtu (10/10/2026).
Belajar membatik dipilih oleh Aditya sebagai program yang bisa ditawarkan pada publik karena kegiatan ini salah satu unggulan rutan tersebut. Dari balik tembok rutan, telah lahir tenaga-tenaga terampil membatik, yakni para warga binaan atau napi yang menghuni di sana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang terlibat dalam kegiatan tersebut selain mentor dari petugasnya sendiri, juga dari warga binaan yang sudah mahir dalam bidang membatik untuk mengedukasi adik-adik dari TK Almanah Campor Barat," ujar Aditya.
Di sisi lain, Aditya berharap belajar membatik dapat membangkitkan rasa cinta seni budaya Tanah Air sejak dini dalam diri 48 peserta edutrip ini.
"(Harapannya) kegiatan ini menjadi sarana edukasi sekaligus pengenalan seni dan budaya kepada anak sejak dini," ucap Aditya.
Aditya menjelaskan program belajar membatik untuk masyarakat umum di Rutan Sumenep digelar sejak dirinya menjabat, yakni 2 Januari 2026. Dia menyebut arahan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto soal keberadaan unit pelaksana teknis (UPT) harus memberi kontribusi dan membuka diri pada masyarakat.
"Rutan Sumenep harus terbuka, sehingga masyarakat akan mengenal bahwa pemasyarakatan bukan lagi tempat pesakitan akan tetapi merupakan tempat pembinaan," tutur Aditya.
Foto: Murid-murid TK Almanah Campor Barat belajar membatik di Rutan Sumenep, Jawa Timur (Jatim). (dok. istimewa) |
Soal anggaran kegiatan ini, Aditya mengaku pembiayaan alat dan bahan membatik berasal dari anggaran rutan dan laba penjualan produk batik karya para napi. Ke depan, imbuh Aditya, kelas membatik catra akan digelar rutin dan jangkauan pesertanya luas, yang mencakup murid-murid SD, SMP, SMA bahkan universitas.
"Anggaran yang digunakan untuk pengadaan bahan-bahan pembinaan yaitu dari anggaran UPT dan hasil laba penjualan batik Rutan Sumenep," pungkas dia.











































