"Itu kan belum tentu benar. Baru klaim Yusril, bukan (pernyataan resmi) presiden atau (jubir kepresidenan) Andi Mallarangeng," kata dia, Sabtu (22/12/2007).
Hal tersebut ia sampaikan menjawab pertanyaan wartawan usai mengikuti diskusi radio bertajuk "Evaluasi toleransi beragama dalam pemerintahan SBY-JK" di Kedai Tempo, Jl Utan Kayu, Jakarta.
Si Abang -- panggilan akrab Adnan Buyung Nasution -- ini merasa tidak yakin karena nama Yusril yang masih lekat dengan kasus dugaan penyalahgunaan wewenang Menkum HAM dalam proyek pengadaan alat identifikasi sidik jari. Kasus yang ditangani KPK itu juga menyeret nama mantan Menkum HAM Hamid Awaluddin.
"Ini pendapat saya sebagai pribadi," tambah anggota Wantimpres itu buru-buru.
Sejauh ini memang belum ada keterangan apa pun dari pihak Istana Kepresidenan atas 'bergabungnya kembalinya' Yusril. Jubir Kepresidenan Andi Mallarangeng yang dihubungi detikcom melalui telepon juga mengaku sementara ini tidak bisa memberi penjelasan mengenai masalah itu.
"Saya sedang tidak tugas sejak sebelum lebaran (Idul Adha). Jadi tidak bisa kasih penjelasan apa-apa soal itu," ujarnya.
Yusril seusai diterima Presiden SBY di kediaman pribadi SBY di Cikeas, Bogor, Jumat 21 Desember 2007 sore, menyatakan, Presiden SBY memberinya tugas khusus. Yaitu memberikan analisa terhadap sejumlah masalah-masalah hukum.
"Ada tugas khusus. Saya diminta memberi analisa masalah-masalah hukum, nanti hasilnya saya sampaikan pada beliau. Tidak ada yang penting," ujarnya melalui telepon kala itu.
(lh/sss)











































