Isu yang konon dihembuskan Prof asal Brazil, Jucelino Nobrega da Luz, dipercaya oleh sebagian masyarakat Padang. Yang percaya ini pun memilih meninggalkan kota Padang.
"Mungkin lebih baik pulang kampung kali ya? Sudah lebih seminggu ini saya tidak dapat tidur nyenyak. Banyak juga yang bilang kabar itu tidak benar, tapi keluarga saya sudah terlanjur takut semua," ujar Dani, warga kelurahan Parupuk Tabing, ditemui detikcom, Sabtu (22/12/2007).
Bukan hanya Dani bersama keluarganya yang memilih ke Bukittinggi. Menurut pria berusia 32 tahun itu, teman-temannya sudah lebih dulu meninggalkan kota Padang.
"Memang, sejak beberapa hari ini banyak sekali isu yang beredar. Ada yang bilang isu itu tidak benar namun ada juga yang bilang sumber isu itu dapat dipercaya. Saya jadi bingung juga, soalnya nggak tahu juga mana yang benar. Jadi lebih baik besok waspada saja di rumah," ujar Erni (34), pedagang sayuran di Pasar Raya Padang.
Menanggapi isu yang beredar di kalangan warga, pihak Badan dan Metereologi dan Geofisika (BMG) Padang Panjang sudah berkali-kali mengingatkan bahwa isu itu tidak benar. BMG meminta agar warga tidak perlu panik karena pada dasarnya belum ada alat yang mampu memprediksi kapan terjadinya gempa dan tsunami secara detil seperti yang ditakutkan warga.
"Masyarakat jangan mudah terpancing karena hanya akan merugikan diri sendiri. Yang harus diingat, banyak hal yang mempengaruhi terjadinya tsunami, seperti gempa yang kuat di atas 5 SR, kedalaman pusat gempa dan kondisi patahan di laut," urai Observer BMG Padang Panjang, Dedi Hermanto, ketika dihubungi detikcom beberapa waktu lalu.
(yon/ana)











































