Harapan Atik untuk melihat anak yang dilahirkannya tumbuh menjadi remaja putra yang cukup tampan dan aktif pupus sudah.
Irfan yang kini berusia 12 tahun berjalan dengan alat bantu semacam baby walker besar yang sudah dimodifikasi. Remaja berambut cepak, putih, dengan tinggi sekitar 140 centimeter ini tatapannya kosong, kendati kepalanya tetap aktif menengok ke kanan dan ke kiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada umur 3,5 tahun Irfan kejang-kejang, pada waktu kita lagi main ke Surabaya," kisah warga Subang ini pada detikcom di sela-sela demo LBH Kesehatan yang diikutinya, di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Jumat (21/12/2007).
Irfan kemudian dibawa ke sebuah RS di Surabaya untuk dirawat selama 14 hari. Dokter pada waktu itu, lanjut Atik, mengatakan Irfan harus dioperasi karena otaknya kekurangan oksigen.
"Tapi setelah dioperasi kok malah jadi kayak gini. Nggak bisa ngomong, nggak bisa jalan. Padahal dulu sebelum dioperasi, bisa nyanyi, bisa jalan-jalan," kisahnya dengan air mata berlinang.
Sebelum kejang pada usia 3,5 tahun, Irfan pernah kejang pada usia 3 tahun. Namun setelah diobati kejang Irfan kambuh lagi.
Setelah itu Atik tak merawat penyakit kejang Irfan karena tak ada biaya. "Kita nggak punya biaya. Suami kerja buruh. Saya ibu rumah tangga biasa," ujar ibu beranak 3 ini.
Atik rupanya sosok ibu yang sabar dan tegar, tetap telaten merawat Irfan dengan penuh kasih sayang. "Ini masih mending sekarang, dulu tangannya kaku. Sampai seperti terpelintir," tuturnya.
Dengan bantuan LBH Kesehatan, Atik pun berani menggugat rumah sakit yang merawat Irfan. "Dulu belum, sekarang aja dalam proses. Karena dibantu orang LBH Kesehatan. Saya cuma pengen anak saya sembuh," harapnya.
(nwk/ana)











































