Mencela Agama Lain, Tidak Mengenal Agama

Laporan dari Stockholm

Mencela Agama Lain, Tidak Mengenal Agama

- detikNews
Kamis, 20 Des 2007 19:02 WIB
Stockholm - Betapa Nabi Muhammad SAW sendiri bersikap sangat toleran kepada umat Kristiani dan kaum Yahudi. Bila ada muslim yang masih mencela pemeluk agama lain, berarti dia tidak memahami Islam secara benar.

Demikian benang merah dialog antarkeyakinan agama yang digelar KBRI Stockholm, Swedia, menjelang Idul Adha, 18/12/2007 lalu. Dialog serius itu langsung dimoderatori oleh Dubes RI Luarbiasa Berkuasa Penuh (LBBP) Linggawaty Hakim.

Dialog digelar setelah timbul beberapa posting di milis Rumah Indonesia, yakni milis masyarakat Indonesia di Swedia, mengenai kasus penutupan salah satu rumah ibadah di Jakarta akhir November lalu. Posting itu selanjutnya memancing perdebatan serius di antara masyarakat Indonesia di Swedia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti disampaikan Korfungsi Infososbud Dody Kusumonegoro kepada detikcom melalui email, keprihatinan yang paling banyak disoroti adalah isu kebebasan menjalankan ibadah agama sebagai Hak Asasi yang dijamin dalam konstitusi Indonesia, masalah pluralisme, pendidikan, kesenjangan ekonomi dan kesejahteraan, ego pribadi sebagai penyebab konflik, pentingnya dialog antarpemeluk agama dan diseminasi pemahaman kepada publik mengenai keberagaman di Indonesia.

Kasih dan Jejak Muhammad SAW

Nazli Ismail, mewakili Kelompok Pengajian Masyarakat Indonesia di Stockholm, mengatakan bahwa Islam mengenal prinsip tasamuh (toleransi, red), yang berarti bersikap sabar dan menahan diri untuk tidak mengganggu dan tidak melecehkan agama atau keyakinan dan ibadah penganut agama-agama lain.

Pria asli Aceh itu mengilustrasikan betapa Nabi Muhammad SAW sendiri bersikap sangat toleran kepada umat Kristiani dan kaum Yahudi di dalam kehidupan sosialnya. "Sehingga bila ada muslim yang masih mencela pemeluk agama lain, berarti dia tidak memahami konsep Islam secara benar," kata Nazli, yang saat ini sedang menempuh program Phd pada Universitas Uppsala.

Sementara itu Warsito dari Perkumpulan Kristen Indonesia (PERKI) di Stockholm menyatakan bahwa kasih adalah inti ajaran Kristiani dan semua umat Kristiani diajarkan untuk saling mengasihi, tidak hanya kepada sesama pemeluk tetapi juga kepada seluruh manusia.

Merujuk pada konflik antaragama yang terjadi di Indonesia, Warsito mengatakan bahwa apa yang sedang terjadi bukanlah cerminan dari ketiadaan toleransi tetapi lemahnya penegakan hukum. Pemerintah harus bersikap tegas mengingat konflik antaragama menjadi tanggung jawab negara untuk mengatasinya.

Edwin Setiawan Tjandra mewakili mahasiswa Indonesia mengemukakan bahwa keberagaman merupakan sesuatu yang inheren dan menjadi ciri khas Indonesia sehingga harus senantiasa dijaga.

Menurut Edwin, keberagaman itu selayaknya sebuah permen, yang apabila diramu dengan benar akan menjadi sangat lezat. Edwin menekankan pentingnya mempelajari Wawasan Nusantara dan agama secara benar agar konflik antaragama tidak terjadi lagi di masa depan.

Sedangkan Nada Danielsson wakil dari warga Indonesia yang sudah cukup lama menetap di Swedia menyatakan bahwa Indonesia bisa mencari cara terbaik untuk mengatasi konflik antarumat beragama. Tantangannya adalah Indonesia dinilai sebagai negara berkembang yang berada di jalur HAM dan demokrasi sehingga penanganan konflik yang salah justru akan menjadi bumerang bagi Indonesia.
(es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads