Rangkaian Summer Course 2026: Transformative Transmigration Planning Towards Green Barelang yang digelar Kementerian Transmigrasi bersama Universitas Diponegoro (Undip) dan Technical University of Munich (TUM), Jerman, berlanjut dengan agenda aksi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat di Tanjung Banon, Kecamatan Galang, Batam.
Pada hari keempat, para delegasi lintas disiplin ilmu melaksanakan kegiatan community service berupa penanaman bibit mangrove di kawasan pesisir Dermaga Kampung Nelayan Merah Putih. Kegiatan ini dilakukan untuk mengenalkan ekosistem pesisir, meningkatkan kesadaran terhadap kelestarian lingkungan, sekaligus mendorong pengembangan ekowisata berbasis masyarakat lokal.
Kegiatan tersebut mendapat respons positif dari para delegasi TUM. Salah satunya Sandra Katharina Rubner yang menekankan pentingnya fungsi ekologis mangrove bagi keberlanjutan permukiman warga pesisir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebelum penanaman, kami mendapat penjelasan mengenai peran mangrove yang mampu mengikat karbon dioksida dan menghasilkan oksigen lebih banyak dibanding hutan hujan. Selain melindungi garis pantai dari bahaya erosi dan abrasi, ekosistem mangrove ini juga dapat meningkatkan kualitas udara dan taraf hidup warga pesisir," kata Delegasi Summer Course asal TUM, Sandra, dalam keterangan tertulis, Selasa (6/10/2026).
Selain berdampak pada lingkungan, kegiatan ini juga dinilai berpotensi mendorong sektor pariwisata lokal.
"Ini pengalaman pertama saya menanam mangrove dan prosesnya sangat menarik. Saya berharap pohon-pohon ini tumbuh subur hingga kelak menjadi daya tarik wisata yang memberi manfaat ekonomi serta lingkungan bagi masyarakat setempat," ujar Delegasi Summer Course asal TUM, Vincent Luis Mai.
Sementara itu, perwakilan Universitas Diponegoro, Prof. Wiwandari Handayani, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar teori di dalam kelas, melainkan aksi nyata di lapangan.
"Kita ingin membawa global perspective ke kawasan transmigrasi. Melalui kombinasi pengalaman masyarakat lokal, akademisi yang memahami kondisi Indonesia, serta mahasiswa internasional, kita dapat menghasilkan solusi yang lebih inovatif. Konsep Green Design yang dirancang tidak hanya berfokus pada fisik," ujar Prof. Wiwandari.
Selain kegiatan lapangan, rangkaian Summer Course 2026 juga diisi dengan sesi diskusi intensif bersama kelompok nelayan, petani, Kelompok Wanita Tani (KWT), dan pelaku UMKM. Sesi dialog ini menjadi ruang konfirmasi bagi peserta untuk memastikan rancangan konsep yang dibuat dapat diterima dan diimplementasikan di kawasan transmigrasi.
Pada Summer Course 2026, terdapat empat fokus utama, yaitu Pertanahan dan Ekonomi, Pengelolaan Lanskap, Pengembangan Masyarakat dan Sosial, serta Rekayasa Lingkungan. Hasil kerja kelompok para delegasi akan dipamerkan dalam ekshibisi dan festival budaya pada Sabtu, 10 Oktober 2026.
Pengembangan kawasan pesisir melalui penanaman mangrove, penguatan ekowisata, dan pemberdayaan masyarakat tersebut sejalan dengan arah pemerintah dalam mendorong pengelolaan sumber daya kelautan secara berkelanjutan. Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk mengembangkan sektor kelautan dan perikanan melalui penguatan ekonomi biru, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Sejalan dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono turut menegaskan pentingnya penanaman mangrove di tengah tantangan perubahan iklim dan pemanasan global.
Penguatan aspek lingkungan dan ekonomi lokal tersebut juga memperkuat arah kebijakan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara dalam menata wilayah sekaligus membangun ekosistem ekonomi berkelanjutan di kawasan transmigrasi.
"Tidak ada jalan lain selain menghadirkan sumber daya manusia unggul dalam transformasi transmigrasi. Harus ada banjir ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pembangunan kawasan transmigrasi," tutup Iftitah Sulaiman.
(prf/ega)









































