"Kita ada program pembangunan kekuatan yang dianggarkan setiap tahun yang diberikan pemerintah. Tapi untuk pengalokasian kebutuhan alutsista itu sendiri semua tergantung pemerintah," kata Wakil KSAD Letnan Jenderal TNI Cornel Simbolon usai peringatan Hari Juang Kartika (HUT TNI AD) ke-62 di Lapangan Pusat Pendidikan Infanteri AD, Cipatat, Padalarang, Bandung Barat, Rabu (19/12/2007).
Menurut Cornel, dalam proses pengadaan alutsista tidak bisa dilakukan secara langsung, tetapi bertahap setiap tahunnya disesuaikan dengan anggaran dari pemerintah. "Kita maunya pengadaan alutsista jenis transportasi sekaligus, tetapi duitnya tidak ada," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sampai saat ini, lanjut Cornel, kebutuhan alutsista yang paling mendasar bagi TNI AD adalah untuk melengkapi kebutuhan senjata ringan. Sedangkan untuk alat angkut seperti panser, sesuai usulan Wapres Jusuf Kalla tengah diupayakan diproduksi di dalam negeri, yaitu PT Pindad.
"Kita mampu membuat sendiri, mengenai kemampuan membuat 150 unit panser tentunya, tapi harus dikasih anggarannya. Pindad sendiri adalah BUMN dan pemerintah juga. Kita sudah mengajukan, maka dilayani tidak untuk pembuatan sebanyak itu, tapi yang dapat dilakukan secara bertahap," jelasnya.
Penambahan panser ini diperlukan, agar ke depannya nanti pasukan kavaleri dan kebutuhan pasukan infanteri. "Jadi rencana kita ke depan infanteri tidak berjalan kaki lagi, maka panser itu yang akan digunakan oleh pasukan infanteri untuk mengangkut satu regu. Jika, industri dalam negeri bisa membuat enam, maka kita minta untuk dibuat yang disesuaikan," tandasnya lagi.
Penggunaan panser buatan Pindad sendiri menurutnya sudah diujicoba di lapangan. "Jadi pergerakan untuk merebut musuh tidak lagi jalan kaki, dengan alat angkut ini diharapkan dapat memudahkan pasukan menembus gunung-gunung," pungkasnya.
(zal/ary)











































