"TNI AD dan TNI pada umumnya harus berdiri sebagai kekuatan moral. Netralitas juga harus dijunjung tinggi dan menghindari upaya politik praktis," demikian amanat KSAD yang dibacakan Wakil KSAD Letjen TNI Cornel Simbolon.
Pidato ini disampaikan dalam Hari Juang Kartika (TNI AD) ke 62 di lapangan pusat pendidikan Infanteri, Cipatat, Padalarang, Bandung Barat, Rabu (19/12/2007). KSAD berhalangan hadir karena menunaikan ibadah haji.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentara tidak boleh menjadi golongan atau kelompok tertentu. Kita harus patuh pada pimpinan," tandasnya.
KSAD menegaskan, TNI saat ini juga melanjutkan reformasi internal yang sudah berjalan selama hampir 9 tahun. Sesuai dengan amanat UU TNI. Pada tahun 2008, TNI akan melaporkan perkembangan hasil dari reformasi internal tersebut.
"Kita juga akan terus melakukan evaluasi terhadap peran dan tugas yang sudah dilakukan maupun yang belum," ujarnya.
Naik Kendaraan Tempur
Dalam peringatan HUT TNI AD ini, beberapa pagelaran dipertunjukkan. Termasuk parade defile atau konvoi. Warga yang menonton pun diperbolehkan menaiki kendaraan tempur TNI AD .
Tidak banyak tokoh yang hadir dalam kegiatan ini kecuali mantan Mendagri Hari Sabarno dan sejumlah pimpinan TNI AD dan Mabes TNI.
Upacara juga dilakukan sekitar 3.000 personel TNI AD gabungan. Acara dimeriahkan dengan aksi demonstrasi kemampuan prajurit TNI AD seperti bela diri, taktik penyerbuan, dan terjun bebas (freefall).
Dalam upacara ini diberikan penyematan penghargaan kepada prajurit TNI AD yakni Pangdam VII Wirabuana Mayjen TNI Djoko Susilo Utomo berupa Bintang Kartika Eka Paksi Utama.
Kemudian tiga prajurit lainnya masing-masing mendapatkan Bintang Kartika Eka Paksi Nararaya. (ziz/nrl)










































