Padahal kondisi tubuhnya sudah hancur. Seluruh tulang kaki, tangan dan sebagian tulang belakang remuk menghantam aspal. Selebihnya, mata kirinya hampir lepas dari rongga mata dan kepala bocor di sana-sini mengeluarkan darah.
"Tolong saya. Saya ditinggal keluarga. Saya kurang kasih sayang," ujar Saleh sambil mengerang sakit di rumah warga Jl Tongkol, RT 1/1 Ancol Pademangan, Jakarta Utara, Rabu (19/12/2007).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untungnya, melintas mobil patroli jalan raya (PJR) dan mikrolet. Dengan sigap, Saleh ditolong dan dilarikan ke RS Atmajaya, Pluit.
Namun sial kembali menyapa Saleh. Di rumah sakit itu, Saleh ditinggal begitu saja oleh polisi yang menolong. Dan oleh sopir mikrolet, Saleh dikembalikan ke lokasi jatuhnya, karena takut tidak ada yang membayar biaya mikrolet dan ongkos rumah sakit.
"Ah percuma juga, orang stres. Nggak ada yang mengganti uang mikrolet dan RS," ujar sopir mikrolet, Ade, seperti ditirukan oleh warga yang menolong Saleh, Suhanda (49).
Karena merasa iba, Suhanda merawat korban yang tinggal di RT 01/08, Kelapa Dua, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Saleh masih terbaring lemas. Tapi yang jelas, Saleh masih bernyawa. Kematian belum menjadi takdirnya. Itulah kekuasaan Tuhan. (Ari/sss)











































