Kepala Satuan Operasional Armina Sukiman Azmy mengatakan sebagai tamu, pihak Indonesia
hanya bisa menerima penempatan maktab yang sudah diatur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sukiman menjelaskan, kesepakatan itu yakni saat melewati Muzdalifah bus dihentikan sebentar untuk memberikan kesempatan jamaah mengambil kerikil. Atau bus diberhentikan di ujung Muzdalifah dan jamaah kemudian berjalan sendiri menuju pemondokan di Mina Jadid, yang berjarak 200 meter.
Padahal dengan berhenti sebentar di Muzdalifah, sudah dianggap mabil. Namun rupanya angkutan jamaah tidak melaksanakan kesepakatan itu.
"Pihak PBIH akan mempersoalkan hal itu kepada pengelola pemondokan dan angkutan," ujarnya.
Sukiman berharap jamah bisa menerima pemondokan yang disediakan dan secara hukum hajinya tetap sah. Namun hingga kini ada beberapa jamaah yang reaksinya berbeda-beda.
Jamaah Indonesia ada yang mau menerima, ada yang tidak mau turun dari bus, ada yang turun lalu mencari tempat sendiri di Muzdalifah dan ada juga yang memilih kembali ke Makkah untuk melakukan tawaf Ifadha, lalu tengah malam waktu arab saudi akan menuju ke Jamarat melewati Muzdalifah. (mly/mly)










































