Jurus Zulhas dan Yandri Jadikan Desa Episentrum Ekonomi

Jurus Zulhas dan Yandri Jadikan Desa Episentrum Ekonomi

Chayyara Zulghifary - detikNews
Jumat, 02 Okt 2026 17:00 WIB
Zulhas Bikin Jelas
Foto: dok. detikcom
Jakarta -

Upaya menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi kembali menjadi perbincangan hangat di tengah isu ketahanan pangan nasional. Fenomena ini turut menjadi perhatian Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas).

Melalui program #ZulhasBikinJelas bersama detikcom, Zulhas menyoroti pentingnya desa sebagai fondasi utama ketahanan pangan. Ia menyebut program pemerintah saat ini diarahkan agar setiap desa memiliki pusat pertumbuhan ekonominya sendiri.

"Oleh karena itu, program kita ingin menjadikan desa itu menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Setiap desa ada pusat pertumbuhan ekonomi. Maka dibangunlah Koperasi Desa Merah Putih," ujar Zulhas dalam program #ZulhasBikinJelas bersama detikcom.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Zulhas menyebut program ini nantinya menyasar persoalan pembiayaan yang selama ini membebankan para pelaku UMKM. Dia menyebut skema pinjaman yang ada di koperasi desa akan lebih berpihak kepada masyarakat kecil.

"Sebagai contoh, skema pembiayaan seperti Mekar di desa dulu bunganya tinggi sekali, bisa mencapai 24 persen. Sekarang melalui Koperasi Desa, kita dorong bunganya turun menjadi 8 persen," katanya.

ADVERTISEMENT

Lebih lanjut, kata Zulhas, cita-cita menjadikan desa sebagai episentrum ekonomi tidak lepas dari peran Kementerian Desa yang berhadapan langsung dengan masyarakat di lapangan. Menindaklanjuti pembahasan tersebut, program #ZulhasBikinJelas mengajak Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto untuk menjelaskan strategi konkret di balik program ini.

Mendes Ungkap 358 Desa Sudah Tembus Pasar Ekspor

Yandri mengungkapkan strategi menjadikan desa sebagai episentrum ekonomi salah satunya dijalankan lewat program Desa Ekspor. Ia menyebut program ini sudah mencakup 358 desa dengan nilai transaksi hampir mencapai Rp1 triliun.

"Nah maka kita buat sekarang itu misalkan desa ekspor. Desa ekspor itu hampir sekarang itu 358 desa ekspor kita buat. Transaksi itu hampir 1 triliun," ujar Yandri.

Ia menjelaskan, strategi utama Desa Ekspor adalah memangkas rantai distribusi yang selama ini dikuasai tengkulak, dengan menyambungkan desa langsung ke negara tujuan.

"Nah desa ekspor ini memang mendekatkan desa dengan bayarnya. Jadi middleman atau para tengkulak atau rantai pasok yang selama ini panjang, itu kita potong. Jadi dari desa kita sambungkan langsung dengan negara tujuan," jelas Yandri.

Desa Temon Dari Gula Aren Lokal, Petani Untung 40 Persen

Yandri mencontohkan keberhasilan strategi tersebut lewat Desa Temon di Pacitan, yang berhasil mengekspor gula aren organik langsung ke Malaysia, Belanda, dan Australia tanpa melalui rantai tengkulak panjang.

"Itu kita ekspor dari desa Temon itu gula aren organik ke Malaysia langsung ke Belanda sama Australia," ujar Yandri.

"Jadi itu membuat pendapatan petani naik 40%," imbuhnya.

Desa Tematik hingga 49 Negara Tujuan, Ini Peta Strategi Mendes

Selain Desa Ekspor, Yandri turut mengungkapkan strategi lain berupa pembentukan desa-desa tematik seperti desa ayam petelur, desa melon, desa semangka, hingga desa jagung, yang diarahkan untuk menyuplai kebutuhan program MBG sekaligus pasar ekspor.

"Kita mau produk-produk desa itu menuju negara-negara tertentu yang sekarang masih ada kita punya 49 negara tujuan ekspor," katanya.

Ia menegaskan, seluruh strategi ini merupakan bagian dari program besar 12 Aksi Bangun Desa, Bangun Indonesia yang menjadi turunan dari Asta Cita ke-6 tentang desa.

"Nah di situ ada Kopdes, ada Bumdes, ada Desa Ekspor, ada Desa Tematik, ada pemuda-pemudi bangun desa, kemudian desa bebas narkoba, semuanya kita buat. Desa ketahanan pangan, ketahanan air," tambahnya.

Seluruh obrolan lengkap terkait strategi Kementerian Desa dalam membangun desa ekspor dapat disaksikan langsung melalui program #ZulhasBikinJelas. Saksikan selengkapnya hanya di detikcom!

Simak juga Video 'Memperkuat Ketahanan Pangan dari Desa':

(prf/ega)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini