"Kendala di lapangan, minimnya stasiun BBG dan sistem pembayaran BLU," kata Jabes Sihombing, Direktur Operasi PT Transbatavia, salah satu konsorsium busway, usai diskusi kelompok terarah bertajuk 'Merumuskan kembali sistem pentarifan Transjakarta' di Hotel Aston, Jl Senen Raya, Jakarta, Selasa (18/12/2007).
Jabes menjelaskan kendala yang ada di lapangan dikarenakan tidak sterilnya jalur busway yang digunakan oleh kendaraan lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, kurangnya stasiun BBG turut menghambat operasionalisasi TransJ. Saat ini stasiun BBG di Jakarta baru tersedia 4 tempat. "Padahal total bus BBG ada 340 unit," imbuhnya.
Menurut Jabes, terlambatnya pihak BLU membayarkan tagihan utang turut mempengaruhi kinerja.
Sementara, Manajer Operasional BLU Rene Nunumete, menambahkan, kendala lain yang menghambat operasional TransJ adalah tidak dilaksanakannya kebijakan yang diterapkan di koridor I (Blok M-Kota).
"Kebijakan 3 in 1, pelarangan mobil barang dan motor masuk jalur busway serta petugas yang 24 jam berjaga," tandasnya.
Koridor I, lanjut Rene, merupakan konsep primadona yang tidak dapat ditemukan di koridor lain. "Jika kebijakan di koridor I diterapkan di koridor lainnya, tentu tidak akan seperti ini," cetusnya. (ziz/nrl)











































