Tim panitia telah memilih 10 nama kandidat DPD RI Awards 2026 kategori Inovator Pendidikan Non Formal/Pendidikan Luar Sekolah. Para kandidat terpilih ini memiliki dedikasi dalam mendidik dan memberdayakan kaum marjinal hingga disabilitas agar mandiri dan berdaya.
DPD RI menjelaskan bahwa penghargaan pada kategori ini akan diberikan kepada individu yang memiliki dedikasi dan berkontribusi dalam pendidikan nonformal.
"Penghargaan diberikan kepada Inovator Pendidikan Nonformal/Pendidikan Luar Sekolah yang berdedikasi dalam mengembangkan pendidikan nonformal dan memperluas kesempatan belajar bagi masyarakat," tulis DPD RI dalam laman resminya, seperti dilihat detikcom, Rabu (19/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut nama-nama 10 kandidat Inovator Pendidikan Non Formal/Pendidikan Luar Sekolah DPD RI Awards 2026, yang diurutkan berdasarkan abjad:
1. Afakhrul Masub Bakhtiar
Afakhrul Masub Bakhtiar merupakan pendiri Sekolah Ndeso, yakni model pendidikan kontekstual yang berakar pada kearifan lokal namun berorientasi pada masa depan. Sekolah Ndeso didirikan di sebuah desa di Gresik, Jawa Timur, pada tahun 2017.
Sekolah Ndeso bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan sebuah ekosistem pengetahuan yang menyatukan tradisi, budaya, dan praksis atau pelaksanaan suatu teori ke dalam bentuk tindakan nyata di kehidupan sehari-hari.
Filosofi Sekolah Ndeso sederhana tapi mendalam: dari akar lahir harapan, dari harapan tumbuh masa depan yang bermartabat.
Landasan pembelajaran Sekolah Ndeso adalah metode TAR (Tumbuhkan, Alami, Rayakan).
Konsep belajar Sekolah Ndeso menyentuh empat dimensi utama: Laku sebagai praktik nyata budaya pangan, Ingatan yang memperkuat memori kolektif, Doa yang menanamkan nilai syukur, serta Inovasi yang menjembatani tradisi dengan kreasi generasi muda.
2. Alvian Wardhana
Alvian Wardhana mendirikan Literasi Anak Banua pada tahun 2018. Literasi Anak Banua berfokus pada pemberdayaan anak serta pemuda adat melalui pendidikan di wilayah terpencil Kalimantan Selatan.
Pendirian Literasi Anak Banua berangkat dari persoalan buta huruf, keterbatasan akses pendidikan, ketidaksesuaian kurikulum dengan konteks masyarakat adat serta kerentanan terhadap perubahan iklim.
Sejumlah program pun dikembangkan, di antaranya bimbingan belajar dan literasi-numerasi, pendidikan iklim, pembangunan perpustakaan mini, pemberdayaan pemuda adat, inkubator iklim Meraki, SAFE for Gender and Climate serta Pelatihan Advokasi Pembaharu Muda Kalimantan Selatan.
Program-program itu menggabungkan pendidikan, pengembangan kapasitas, kewirausahaan, advokasi, kesetaraan gender dan pemecahan masalah lingkungan. Praktiknya melibatkan pelajar-guru, pemuda adat, komunitas lokal serta berbagai mitra seperti UNICEF, UNESCO, Plan International, hingga Rockefeller Foundation.
3. Egi Trialogi
Egi Trialogi merupakan seorang guru honorer dan tutor pendidikan kesetaraan asal Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Dia mendirikan sekolah anak jalanan bernama Pustaka Raharja di Majalengka.
Lewat Pustaka Raharja, Egi mengintegrasikan pendidikan kesetaraan, pembentukan karakter dan pemberdayaan ekonomi anak jalanan. Dia menyediakan sistem pembelajaran nonformal yang fleksibel dan berlandaskan kearifan lokal guna memutus rantai kerentanan sosial-ekonomi.
Egi membuka dan menggerakkan usaha yang dikelola langsung oleh peserta didik dengan bimbingan operasional, pelayanan, dan keuangan. Berikut ini unit usaha yang dikelola dan dijalankan anak didik Egi Trialogi:
- Angkringan Senja: Layanan kuliner malam yang merakyat.
- Dapoer Senja: Olahan pangan lokal dan katering.
- Nusantara Steam: Pelatihan jasa perawatan kendaraan.
- Toko Sayuran Berkah Nusantara: Tata kelola ritel dan distribusi bahan pangan segar.
4. Fatmawati Arisuddin
Fatmawati Arisuddin menggagas program Tukar Sampah dengan Ijazah Kesetaraan sejak tahun 2019. Program ini merangkul masyarakat prasejahtera di Mamuju Tengah dengan mengintegrasikan pendidikan kesetaraan, pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan sampah.
Program Tukar Sampah dengan Ijazah Kesetaraan menyediakan pendidikan Paket A, B, dan C secara gratis. Fatmawati juga mengajak warga mengumpulkan sampah plastik dan botol bekas yang diolah menjadi material pengganti batu bata untuk membangun fasilitas pendidikan.
Kemudian gerakan ini diperluas melalui Program Keaksaraan Dasar dan Keaksaraan Usaha Mandiri bagi masyarakat yang belum mampu membaca, menulis, dan berhitung. Ada juga program Tukar Sampah dengan Beasiswa Kuliah untuk membantu lulusan Paket C melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Program-program yang dijalankan Fatmawati Arisuddin ini menghubungkan pendidikan, pelestarian lingkungan, kemandirian masyarakat dan gotong royong dalam satu ekosistem pemberdayaan desa.
5. Gusti Mohammad Hamdan Firmanta
Gusti Mohammad Hamdan Firmanta merupakan pendiri Kawan Netra, lembaga pendidikan untuk pendampingan tunanetra yang berbasis di Surabaya, Jawa Timur, sejak tahun 2021. Kawan Netra menjalankan program Gerakan Tunanetra Mengaji (GTM) dan Buta Digital (BD).
Program GTM digagas berangkat dari angka buta huruf Quran Braille (QB) di kalangan tunanetra muslim Indonesia yang cukup tinggi, yakni mencapai 95%. Mereka hafal Al Quran dan mahir qiroah, tapi untuk membacanya karena tak mampu.
Program ini menjadi support system pendidikan baca tulis QB yang memastikan pembelajaran berjalan dengan baik dan berkelanjutan. Di dalamnya terdapat pelatihan guru QB, Kegiatan Belajar Mengaji, Festival Tunanetra Mengaji dan kerelawanan.
Sementara program BD merupakan program bimbingan dan pelatihan literasi digital bagi tunanetra agar bisa mandiri dan mengoperasikan platform digital. Dengan program ini, para tunanetra bisa menguasai sejumlah flat form digital dan bisa menghindarkan mereka dari penipuan.
6. Kanaya Malika Amanda
Kanaya Malika Amanda merupakan penggagas dan penggerak program Edukasi Berjalan, yakni gerakan youth changemaker yang merangkum perjalanan 8 tahun Kanaya sebagai pendidik pemuda dan anak. Gerakan ini berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya dalam memajukan pendidikan masyarakat marjinal.
Inisiatif ini lahir dari minimnya pembangunan serta inovasi pendidikan oleh pemerintah daerah yang jarang melibatkan pemuda. Bergerak secara independen, Kanaya menggerakkan anak muda untuk merangkul, berbagi dan menginspirasi anak-anak dari komunitas rentan demi menciptakan akses pendidikan yang setara.
Hingga kini, Kanaya telah memimpin 253+ program pendidikan langsung bagi anak dan pemuda yang mencakup isu hak asasi manusia, lingkungan (sampah dan iklim), pemberdayaan perempuan, keamanan digital, pencegahan kekerasan dengan metode pendidikan sistem thinking (pendidikan bagaimana dunia bekerja: politik, ekonomi, sosial).
Lewat program-program youth changemakers, gerakannya telah berdampak langsung pada 28.575 orang di 11 kota dan 2 negara, serta menjangkau partisipasi daring hingga ke 10 negara di tingkat lokal hingga internasional.
7. Sofian
Sofian mendirikan Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL), wadah pendidikan konservasi bunga puspa langka Bengkulu atau Rafflesia, sejak tahun 2010. KPPL didirikan berawal dari keprihatinan terhadap rendahnya pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian Rafflesia.
Melalui KPPL, Rafflesia dijadikan sebagai media pembelajaran dan pintu masuk pendidikan lingkungan. Edukasi dilakukan melalui kegiatan pengenalan Rafflesia, pembelajaran langsung di habitat, ekspedisi, pengamatan, dokumentasi, kampanye konservasi, edukasi ke sekolah, komunitas, serta pemanfaatan media digital.
Pendekatan ini membuat pendidikan tidak hanya berlangsung secara teoritis, tetapi memberikan pengalaman nyata kepada masyarakat untuk mengenal, memahami, mencintai, dan menjaga kekayaan alam di sekitarnya. Kegiatan ini menempatkan masyarakat sebagai subjek sekaligus pelaku pendidikan konservasi Rafflesia.
Pengetahuan yang diperoleh diarahkan menjadi kepedulian dan aksi nyata, seperti menjaga habitat Rafflesia, menyebarkan informasi konservasi, menerapkan etika saat berada di lokasi puspa langka, serta mengajak masyarakat lain untuk turut melestarikannya.
8. Sri Wahyaningsih
Sri Wahyaningsih merupakan inisiator Sanggar Anak Alam (SALAM), "Laboratorium Pendidikan" untuk melayani anak-anak dari jenjang PAUD hingga SMA. SALAM diinisiasi pada tahun 1988 di Desa Lawen, Banjarnegara, sebagai respons terhadap tingginya angka putus sekolah dan pernikahan dini.
Kemudian, SALAM mengembangkan pendekatan "sekolah hadap masalah", yaitu pembelajaran berbasis pengalaman nyata, pengamatan lingkungan, diskusi, riset, dan pencarian solusi bersama. Sejak 2000, pendekatan itu dikembangkan di SALAM, Nitiprayan, Bantul, melalui PKBM yang mendampingi anak usia dini hingga setara SMA.
Proses belajar tidak berbasis mata pelajaran, tetapi riset sesuai minat anak dengan empat pilar utama, yaitu pangan, kesehatan, lingkungan hidup, dan sosial budaya, yang kemudian ditambah dengan energi.
Melalui SALAM, proses belajar dibebaskan dari dinding kelas yang kaku dan teks hafalan. SALAM menjadikan lingkungan sekitar, potensi lokal serta peristiwa sehari-hari di masyarakat sebagai media utama pembelajaran.
Belajar tidak lagi diartikan sebagai persiapan untuk ujian, melainkan proses mengalami dan memahami kehidupan itu sendiri secara kontekstual. SALAM membuktikan bahwa komunitas lokal mampu mengelola pendidikan yang inklusif, humanistis, dan memberdayakan tanpa harus bergantung penuh pada standardisasi kaku.
9. Taryaningsih
Taryaningsih mendirikan Kawasan Inklusif sebagai wadah pendidikan nonformal bagi penyandang disabilitas di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Kawasan Inklusif dibangun pada tahun 2019, inovasi pertama di Indonesia yang menghabiskan dana Rp 3 miliar lebih.
Lewat Kawasan Inklusif, para penyandang disabilitas diberikan bekal keterampilan vokasi untuk mencetak disabilitasmart. Para penyandang disabilitas juga diajari langsung hidup berdampingan di masyarakat (bersosialisasi dengan non disabilitas).
Pembangunan Kawasan Inklusif ini bertujuan untuk memberikan kesempatan pada disabilitas dan kelompok rentan untuk mempunyai rumah sendiri. Program ini membantu menciptakan infrastruktur yang ramah disabilitas (rumah dengan desain khusus).
Menciptakan usaha untuk disabilitas dan memudahkan pemasaran karena menjadi satu sentra usaha (kawasan produktif).
Layanan umum di kawasan ini didesain secara khusus agar aksesibel untuk disabilitas. Jalan juga dirancang khusus untuk disabilitas ada jalur kursi roda dan guiding block untuk disabilitas netra.
10. Yudhi Hari Wibowo
Yudhi Hari Wibowo merupakan inisiator ASN Mengajar, yakni gerakan nasional yang berawal dari pengalaman mengajar secara sukarela sejak 2017. Program ASN Mengajar dijalankan dan dipimpin Yudhi sejak 2022.
Gerakan ini mengajak ASN di berbagai wilayah Indonesia berperan dalam pemerataan pendidikan bagi masyarakat prasejahtera melalui pendidikan formal, nonformal, dan informal.
ASN Mengajar menjalankan kegiatan pengajaran rutin, bantuan pendidikan, kelas minat dan bakat, kewirausahaan kreatif remaja, outing class, serta beasiswa dan bantuan perlengkapan sekolah.
Kini, gerakan ini berbadan hukum sebagai Yayasan Pendidikan Dewantara Muda dan memiliki jaringan di enam wilayah binaan, yaitu Tangerang Selatan, Banda Aceh, Samarinda, Yogyakarta, Semarang, dan Jakarta Utara.
Lihat juga Video: Kota-Provinsi di Sulawesi Penerima Apresiasi Layanan Pendidikan dari Kemendagri










































