Kemarau panjang masih menjadi momok bagi warga Indonesia saat ini. Bagaimana tidak, pada penghujung bulan September ini, baru sedikit wilayah Indonesia yang diguyur hujan. Itu pun berkat usaha operasi modifikasi cuaca oleh Pemda masing-masing. Kekeringan akibat belum datangnya hujan hingga jelang akhir pertengahan paruh kedua 2026 pun semakin dirasakan masyarakat Indonesia, tidak terkecuali Jawa.
Mirip dengan sejumlah daerah di NTT, beberapa wilayah Jawa Timur dan Jawa Barat sudah memasuki darurat kekeringan. Di Pati, warga bersama pemerintah setempat sudah mengusahakan pengadaan air bersih untuk menyuplai kebutuhan sehari-hari. Hal serupa juga terjadi di berbagai wilayah lain seperti Tulungagung, Mojokerto, Tasikmalaya, dan Cianjur.
Kekeringan yang melanda Indonesia, khususnya wilayah-wilayah lumbung pangan nusantara, meningkatkan alarm rentannya ketahanan pangan. Puncak El Nino yang menghampiri Indonesia, oleh Prof Dwi Andreas Santosa pada akhirnya akan mempengaruhi rantai pasok. Mengutip detikEdu, Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University tersebut mengatakan jika kondisi ini akan bermuara pada naiknya sejumlah harga bahan pangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Musim hujan tahun ini juga diperkirakan mundur ke November atau Desember dengan curah hujan lebih rendah. Akibatnya, musim tanam pertama berpotensi bergeser dan produksi padi pada 2027 berisiko kembali tertekan," kata Andreas pada Rabu (30/9).
Membaca situasi ini, di level pusat, Pemerintah telah menyiapkan sejumlah strategi dalam rangka menjaga stabilitas harga serta memperkokoh ketahanan pangan. Menteri Koordinator Bidang Pangan Indonesia, Zulkifli Hasan, menyebut pemerintah akan mengupayakan adanya varietas baru hingga mekanisasi untuk memaksimalkan produksi pangan di Indonesia.
Lalu seperti apa strategi yang dimiliki Zulhas dalam menjaga benteng ketahanan pangan Indonesia? Simak diskusinya dalam #ZulhasBikinJelas dalam detikSore!
Ratusan sopir truk yang tergabung dalam Gerakan Sopir Jawa Timur (GSJT) menggelar aksi unjuk rasa di Surabaya, Rabu (30/9/2026). Sedikitnya, 250 unit kendaraan, mulai truk towing, colt diesel hingga truk fuso, dikerahkan dalam aksi yang dijadwalkan berlangsung hingga 2 Oktober 2026. Aksi unjuk rasa ini juga sampai memblokade kawasan Bundaran Waru, Sidoarjo. Para sopir turun dari kendaraan dan memarkir truk towing mereka di badan jalan hingga membuat arus lalu lintas di kawasan penghubung Sidoarjo-Surabaya itu tersendat.
Selain itu, Jalan Frontage Ahmad Yani Surabaya pun dikabarkan lumpuh total imbas aksi unjuk rasa GSJT. Polisi memberlakukan pengalihan arus lalu lintas untuk menghindari kepadatan di kawasan tersebut. Seperti apa update terbaru dari kasus ini? Apa saja tuntutan para supir truk itu? Simak laporan lengkapnya bersama jurnalis detikJatim.
Simak berita terbaru dan menarik detikcom lainnya dalam detikSore. detikSore, Nggak Cuma Hore-hore!










































