Di Maktab 59, baik nasi, sayur, lauk maupun buah diambilkan petugas katering. Hanya Air putih yang diambil sendiri oleh jamaah. Di Maktab 23, semua makanan diambil oleh jamaah dengan santai. Di Maktab 47, hingga pukul 19.00 WAS makan malam baru akan disajikan.
Antrean panjang terlihat terjadi hampir di semua maktab. Antrean diatur berjajar dua, ada juga yang diatur bersilangan. Rata-rata lancar. Ada juga jamaah memilih makan masakan Indonesia yang dijual mukimin di pinggir-pinggir jalan di luar maktab. Ada yang beralasan antrean terlalu panjang, ada juga yang beralasan tidak cocok dengan menu yang disajikan.
"Bumbu ikan yang disajikan tidak pas. Baunya jadi tidak enak," ujar Purwanto asal Yogyakrta yang memilih duduk lesehan di pinggir jalan sambil menyantap gado-gado yang dijual mukimin.
Selain itu, banyak juga kejadian-kejadian kecil saat makan malam pertama di Arafah. Seperti di maktab 19, para jamaah harus memakan nasi yang belum matang. Lalu di Maktab 43, piring untuk makan malam kurang. Serta di Maktab 20, nasi untuk para jamaah kurang, sehingga harus disuplai.
(mbr/ary)











































