The Classroom Ungkap Cara Ubah Data dan Program Jadi Berita Berdampak

The Classroom Ungkap Cara Ubah Data dan Program Jadi Berita Berdampak

Hana Nushratu - detikNews
Selasa, 29 Sep 2026 09:37 WIB
The Classroom by detikcom
Foto: dok. Gilang Faturahman/detikcom
Jakarta -

Hubungan masyarakat (humas) instansi pemerintah saat ini harus memahami pentingnya perspektif jurnalistik. Sebab, informasi mengenai program dan data yang dimiliki instansi tidak seharusnya berhenti sebagai laporan kegiatan, tetapi perlu diolah agar memiliki relevansi bagi masyarakat.

Hal ini dijabarkan oleh Redaktur Pelaksana detikNews Indah Mutiara Kami dalam acara The Classroom by detikcom hari pertama. Dalam sesi Journalism & NewsCraft+, wanita yang akrab disapa Tiara ini, memaparkan cara mengubah data dan program instansi menjadi materi pemberitaan yang berdampak bagi masyarakat.

"Ketika ini tujuannya untuk masyarakat, harus ada bedanya. Mana yang laporan kegiatan, mana yang memang tujuannya untuk disampaikan kepada masyarakat," ujar Tiara di Wisma Pertanian Cipayung, Bogor, Rabu (23/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Humas Berperan dalam Manajemen Krisis

The Classroom by detikcomThe Classroom by detikcom Foto: dok. Gilang Faturahman/detikcom

Salah satu materi yang disampaikan Tiara adalah mengenai pentingnya manajemen krisis dalam pekerjaan kehumasan. Menurutnya, krisis dapat muncul dari berbagai hal yang terkadang tidak terduga, terlebih di era ketika sebuah peristiwa dapat dengan cepat direkam dan disebarluaskan melalui media sosial.

ADVERTISEMENT

Dalam situasi krisis, pernyataan yang disampaikan instansi dapat mempengaruhi persepsi publik. Oleh karena itu, humas instansi memiliki peran penting dalam menentukan bagaimana sebuah peristiwa dijelaskan kepada masyarakat.

Tiara mencontohkan sejumlah kasus yang sempat menjadi perhatian publik di media sosial (medsos) yaitu Senayan City (Sency) mengenai pria yang menendang wanita. Dari kasus tersebut, Sency menunjukkan respons komunikasi yang tidak menjawab persoalan utama justru dapat memunculkan kritik baru, bahkan cancel culture.

Sebaliknya, Tiara mencontohkan kasus TransJakarta (TJ) mengenai tunawisma yang diturunkan dari bus akibat bau badan. Dalam kasus ini, TJ memberikan respons yang mencakup permintaan maaf, penjelasan mengenai peristiwa, tindakan yang telah dilakukan, serta evaluasi dan tindak lanjut dari kasus.

Menurut Tiara, unsur-unsur tersebut penting ketika instansi harus memberikan klarifikasi kepada publik.

"Peran humas penting karena bisa jadi membuat pernyataan bisa membuat kondisi jadi lebih baik atau lebih buruk," kata Tiara.

Tiara menambahkan tugas humas bukan hanya menyampaikan apa yang terjadi, tetapi juga menjelaskan langkah yang telah dilakukan instansi setelah suatu peristiwa terjadi.

Agar Siaran Pers Tidak Masuk Tempat Sampah

Data Muck Rack 'State of Journalism' (2024-2025) menyebut 86% jurnalis membuang rilis karena tidak relevan, sementara 71% menolak rilis karena nadanya terlalu promosi, dan 50% mengabaikan rilis yang terasa seperti template massal.

Mengacu pada pengalamannya sebagai jurnalis, Tiara mengatakan redaksi menerima banyak siaran pers setiap harinya. Namun, tidak seluruh siaran pers tersebut kemudian menjadi berita.

Salah satu alasan sebuah rilis tidak menarik perhatian redaksi adalah karena informasi yang disampaikan tidak memiliki dampak yang jelas bagi pembaca atau terlalu banyak menggunakan bahasa promosi.

"Saya jelaskan di awal karena ini kenyataannya. Nantinya mungkin dari humas-humas instansi lain juga kadang sering nanya, 'gimana nih caranya biar rilis kita bisa naik, rilis kita dilihat, atau rilis kita viral gitu, berita kita viral gitu?'," kata Tiara.

Informasi mengenai sebuah program pemerintah, misalnya, sebaiknya tidak hanya menjelaskan kegiatan telah dilaksanakan. Lebih jauh, informasi tersebut perlu menjelaskan manfaat program, siapa yang terdampak, serta perubahan atau hasil yang dapat dirasakan masyarakat.

"Bukan hanya sekadar seremoni atau formalitas, tapi hal-hal yang baik yang ada di instansi tersebut bisa sampai ke masyarakat," jelas Tiara.

Jangan Sekadar Penuhi Berita dengan Data

Tiara menekankan pentingnya mengolah data agar tidak sekadar menjadi deretan angka dalam sebuah berita. Data yang dimiliki instansi dapat menjadi informasi yang bernilai apabila mampu menjawab kebutuhan publik.

Sebaliknya, terlalu banyak angka tanpa konteks dapat membuat pesan utama justru tidak tersampaikan. Menurutnya, data tersebut lebih cocok untuk membuat laporan kegiatan kepada atasan.

"Bagaimana ya supaya masyarakat juga tahu bahwa data ini itu berdampak ke mereka. Bukan hanya menampilkan misalkan angka paling besar, atau misalkan berita-berita yang isinya semuanya malah jadi penuh dengan angka, penuh dengan data, lalu intinya tidak sampai ke kebutuhan publik," tutur Tiara.

Dalam konteks humas pemerintah, pengolahan informasi tersebut juga berkaitan dengan upaya membangun transparansi dan kepercayaan publik. Program yang telah dilakukan instansi akan lebih mudah diketahui masyarakat ketika informasi mengenai tujuan, pelaksanaan, dan manfaatnya disampaikan secara jelas.

Tiara menegaskan tugas humas bukan sekadar menyampaikan sebuah kegiatan telah berlangsung, tetapi juga menjelaskan mengapa kegiatan tersebut penting dan apa dampaknya bagi masyarakat.

Apalagi, peserta yang merupakan Sumber Daya Manusia (SDM) Direktorat Jenderal (Ditjen) Hortikultura Kementerian Pertanian RI (Kementan) mampu penyampaian informasi mengenai Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP) secara lebih efektif, termasuk menjelaskan program dan manfaatnya kepada masyarakat.

Tiara juga menilai HDDAP merupakan salah satu program yang menarik untuk dikomunikasikan kepada publik. Tantangannya adalah bagaimana program tersebut dapat tersosialisasi dengan baik sehingga masyarakat memahami program serta dampaknya.

"Tantangannya adalah memang membuat program yang baik ini tersosialisasi dengan baik ke masyarakat, sehingga masyarakat bisa tahu apa dampaknya kepada mereka," kata Tiara.

Sebagai informasi, kegiatan ini digelar oleh Ditjen Hortikultura bersama detikcom di Wisma Pertanian Cipayung, Bogor. Kegiatan yang berlangsung pada 23-25 September 2026 sebagai upaya meningkatkan kapasitas dan keterampilan komunikasi publik jajaran internal, khususnya dalam penguatan jurnalistik, strategi media sosial, branding, dan produksi konten digital melalui pembelajaran interaktif bersama para praktisi media.

Dalam sesi Journalism & NewsCraft+, peserta mempelajari teknik reportase, penulisan berita, serta etika jurnalistik. Pembelajaran ini menjadi pijakan penting dalam mendukung penderasan informasi program HDDAP dan kinerja Ditjen Hortikultura secara transparan.

Pentingnya Komunikasi Efektif dalam Program HDDAP

The Classroom by detikcomThe Classroom by detikcom Foto: dok. Gilang Faturahman/detikcom

Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Kementan Freddy Lumban Gaol menyebut pelatihan The Classroom menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan komunikasi publik jajaran Ditjen Hortikultura.

Menurut Freddy, berbagai program strategis yang dijalankan Ditjen Hortikultura perlu disampaikan secara menarik, mudah dipahami, serta memenuhi kaidah jurnalistik agar manfaatnya diketahui masyarakat.

Freddy menjelaskan Ditjen Hortikultura memiliki enam unit Eselon II yang menjalankan beragam program dan kegiatan. Seluruh capaian tersebut dinilai perlu dikemas menjadi informasi yang relevan dan berdampak bagi publik.

"Pelatihan publikasi media ini adalah langkah strategis untuk memastikan setiap program dan kinerja publik di lingkungan Direktorat Jenderal Hortikultura disampaikan secara akurat, edukatif, dan menarik. Melalui kolaborasi bersama Classroom detikcom, kami mendukung penuh peningkatan kapasitas ASN agar mampu mengemas diseminasi informasi pemerintah secara komunikatif, relevan, serta mudah dipahami oleh masyarakat luas," ujar Freddy.

Freddy menambahkan peningkatan kapasitas komunikasi juga penting untuk mendukung penyebarluasan informasi mengenai HDDAP yang saat ini dijalankan Ditjen Hortikultura. Menurut Freddy, program yang didukung oleh pendanaan dari Asian Development Bank (ADB) dan International Fund for Agricultural Development (IFAD) tersebut memiliki berbagai manfaat yang perlu diketahui masyarakat luas.

"Manfaat-manfaat yang sudah dilakukan melalui HDDAP perlu disampaikan kepada masyarakat. Penyampaiannya bisa melalui berbagai bentuk publikasi, mulai dari tulisan, video, audio, hingga media sosial," kata Freddy.

"Kami ingin petugas di Ditjen Hortikultura mampu menyajikan informasi penting dan berbagai pencapaian tersebut sehingga masyarakat mengetahui program-program yang telah dilakukan pemerintah," pungkasnya.

Lihat juga Video: The Classroom: Memperkuat Komunikasi dan Publikasi HDDAP

(prf/ega)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini