Peristiwa yang sempat mengusik perasaannya itu terjadi dua malam yang lalu.
"Dua hari lalu saya bermimpi semua gigi saya terangkat copot, tapi nggak saya hiraukan, ah... ini cuma mimpi tapi ternyata itu isyarat suami saya akan meninggal," tutur Titin kepada detikcom di Gedung Deplu, Jalam Pejambon, Jakarta, Senin (17/12/2007).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selintas kemarin saya telepon ke Bali, kebetulan suami saya sudah perjalanan di Probolinggo. Setelah itu saya telepon lagi, suami saya bilang sudah sampai Subang, berarti sudah hampir dekat rumah. Saya tunggu-tunggu kok nggak datang-datang," tuturnya.
Pukul 17.00 WIB sore, Titin mendapat telepon dari suaminya dan mengabarkan dia sudah sampai Demak. "Loh kok Demak? Katanya kemarin sudah Subang, kata saya. Tapi suami saya bilang bukan Subang tapi Tuban," ujarnya.
Titin juga menuturkan saat pertama kali mendengar kabar kecelakaan yang menimpa suaminya di Indramayu. Menurut dia, sekitar pukul 02.30 WIB, dia mendapat telepon. Dia sempat mengira telepon itu dari suaminya.
"Tapi ternyata Pak Polisi, dia katakan suami saya mengalami kecelakaan dan sampai sekarang belum sadar juga. Pak Polisi minta agar keluarga saya ada yang ke sana. Akhirnya tiga saudara saya langsung ke sana," kata dia.
Suryadi meninggalkan seorang istri dan tiga putri berumur 12 tahun, 9 tahun dan 1,5 tahun. Saat ke Deplu, dia ditemani kakak, adik dan anak nomor duanya. (umi/nrl)











































