Aksi ini merupakan aksi ketiga sejak akhir pekan lalu. "Kami tak akan pulang sebelum janji mereka ditepati. Biar saja sampai kelaparan di sini," ujar Umi Sapiah warga Desa Digul Bener Meriah pada detikcom, Senin (17/12) di halaman kantor DPR Aceh.
Janji yang disebut Umi Sapiah adalah janji BRA yang mengatakan akan memberikan uang sekitar Rp 15 juta. Uang tersebut merupakan sisa pembangunan rumah yang sudah dibangun BRA tahun 2005 silam. "Sebenarnya, uangnya untuk bangun rumah. Tapi karena rumahnya kami anggap tak layak huni, masyarakat protes. Waktu itulah dijanjikan uang Rp 15 juta sebagai penggantinya," kisah Umi Sapiah.
Umi Sapiah datang bersama ratusan korban konflik lainnya. Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai pemetik kopi ini membawa dua anaknya. Dituturkannya, suaminya diculik ketika Aceh berstatus darurat sipil pada 2004 silam, sebelum tsunami. Rumahnya sendiri dibakar sekitar tahun 2000.
"Saya jadi bingung. Ini anak-anak sebagian saya tinggal di kampung. Bagaimanalah nasib kami ini. Saya pergi ini saja beras tidak ada di rumah. Makanya kami berharap sekali dapat uang pulang dari sini. Mana ayah anak ini sejak diculik tak tahu rimbanya," ujarnya sembari menunjuk anaknya yang paling bungsu dalam gendongannya.
Dikatakannya, ketika dia hamil 2 bulan, suaminya ‘diambil’ orang. "Saya tidak tahu siapa mereka. Pokoknya mereka bawa suami saya, dan sekarang saya tidak tahu di mana dia. Sejak itu saya pulang ke kampung di Sigli," lanjutnya.
Bersama ratusan pengunjuk rasa lainnya, sampai saat ini Umi Sapiah masih bertahan di halaman kantor DPR Aceh, Jl.T.Daud Bereueh, Banda Aceh. Mereka mengaku tidak mau ke kantor BRA karena beberapa kali aksi mereka tidak ditanggapi. Sayangnya, sampai saat ini detikcom, belum berhasil mendapat konfirmasi dari BRA.
(ray/djo)











































