Ke Ceko Kita Boleh Berkaca

Laporan dari Praha

Ke Ceko Kita Boleh Berkaca

- detikNews
Senin, 17 Des 2007 13:49 WIB
Praha - Masuk ke ruangan konsuler itu seperti masuk ke ruang interogasi polisi rahasia Statni Bezpecnost (StB). Di ruang sempit 2x4 meter saya merasa dibiarkan sendiri.

Begitu masuk, saya langsung merasa seolah-olah kemerdekaan saya sudah terampas. Tidak ada orang lain hari itu, kecuali saya. Hening. Setelah sekitar 15 menit menunggu, kemudian muncul seorang staf perempuan menyapa saya dari balik loket berlapis kaca setebal 3cm. Setelah itu dia menghilang lagi. Hampir 30 menit waktu melayang.

Hening lagi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk orang yang biasa hidup dengan tempo tinggi dan menghargai waktu, masa menunggu selama itu ternyata sangat menyiksa. Saya tiba-tiba disergap rasa sesal, mengapa tadi saya melangkah dari teritorial Belanda yang penuh kebebasan dan serba cepat, ke ruangan sempit yang menyiksa ini.

Itulah catatan pendek pengalaman saya berurusan dengan konsuler di Kedubes Ceko di Den Haag.
Tengah pekan kemarin saya memang memutuskan untuk melakukan perjalanan ke negerinya Nedved itu. Sebelumnya dari para kolega Belanda saya telah mendengar bahwa berurusan dengan negara-negara bekas Blok Timur hampir selalu mengecewakan, salah satunya karena persoalan birokrasi.

Namun semua itu menguap setelah staf perempuan tadi kembali muncul. Hari itu juga saya mendapat kejelasan, kapan visa saya selesai. Hanya tiga hari! Tiga hari kemudian saya memastikan melalui telepon dan saya mendapat jawaban ramah bahwa saya sudah bisa mengambil visa saya.

Pelayanan birokrasi Ceko ternyata jelas dan cukup singkat, meskipun soal tempo pelayanan masih perlu ditingkatkan lagi.

Setiba di Bandara Ruzyne, Praha, kenyamanan juga langsung terasa. Tidak ada orang-orang lokal yang langsung mengepung menawarkan jasa, yang menimbulkan kebingungan dan rasa terancam.

Tidak heran jika negeri yang luasnya cuma 78.864 km2 itu setiap tahunnya mampu menyedot 6.437.506 pelancong (2006). Hampir menyamai jumlah penduduknya yang berjumlah 10,2 juta!

Menyongsong Visit Indonesia 2008, sudahkah kita siap? Sebagai pintu gerbang utama, kantor-kantor perwakilan di Eropa Barat dan Skandinavia sudah standar menyelesaikan visa rata-rata cuma 3 hari.

Pertanyaannya, sudahkah pintu gerbang lapis kedua yakni bandara dan bandalut (badar laut) siap untuk bersikap profesional melayani para tamu pelancong asing, yang membawa gemerincing valuta?

Selanjutnya, sudahkah aparat pemerintah daerah termasuk jajaran kepolisian juga siap untuk menjamin 'para tamu negara' tinggal dengan nyaman dan aman?

Menengok kasus video rekaman ulah perwira polantas Bali terhadap turis Kanada dan bagaimana Humas Mabes Polri menyikapinya, jelas sangat mengkhawatirkan. Hari gini, Mabes Polri masih melakukan pendekatan gaya 70-an. Bukannya memeriksa aparatnya, tapi langsung mengarang bahwa video itu direkayasa dan merupakan upaya asing untuk merusak citra pariwisata Indonesia.

Ini era internet dan informasi. Tidakkah Mabes menyadari bahwa pernyataannya itu menjadi bulan-bulanan di forum Youtube? Langkah Polda Bali yang menyatakan telah menemukan siapa perwira itu cukup melegakan.

Visit Indonesia 2008 tinggal beberapa hari lagi. Jangan tunggu besok, berbenahlah detik ini juga!
(es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads